Chapter 347 of 406
Chapter 347 - Bekerjasama Untuk Penyelidikan
5 min read1,184 words
"Apa kamu tidak pernah merasa menyesal setelah membantuku?"
Aku tidak tahu apa yang salah dengan kepalaku hingga aku menanyakan hal ini.
Sebenarnya apapun yang terjadi, aku hanya tidak ingin terjadi hal-hal buruk kepada Yang Qin karena diriku, seperti saat dia dihukum oleh raja Yan... hingga saat ini aku masih dapat mengingatnya dengan begitu jelas.
Atau karena sudah melalui banyak hal dia menjadi menyesal bersama denganku.
Tapi jawaban Yang Qin membuatku terkejut...
"Sebelum membantumu aku pasti sudah memikirkan semua konsekuensinya, tapi… aku tidak menyesal."
Yang Qin mengatakan itu dengan sangat yakin sambil melihat ke arahku.
Tanpa sadar air mataku mengalir keluar, kemudian aku membenamkan wajahku di pelukannya.
Yang Qin mengangkat wajahku kemudian mencium bibirku dengan lembut. Aku merasa bibirnya yang dingin itu terasa hangat dan dia menciumku cukup lama.
Aku tahu melakukan ini di upacara penghormatan terakhir tante Ji Li tidak sopan tapi aku merasa seperti sudah kehilangan akal sehatku dan terhanyut dalam kelembutan Yang Qin.
Mungkin kami hanya berciuman selama 10 detik lebih tapi aku malah merasa waktu berlalu begitu lama.
Saat Yang Qin baru berhenti menciumku aku melihat bayangan hitam di pintu rumah duka.
Bayangan itu tinggi dan besar, seketika jantungku berdegup kencang karena aku berpikir bahwa itu adalah bayangan iblis itu, tapi saat bayangan hitam itu berjalan masuk aku baru dapat melihatnya dengan jelas bahwa itu adalah petugas polisi.
Petugas polisi itu melihat ke arahku dan Yang Qin kemudian dia melihat foto tante Ji Li dan dengan sopan menyalakan dupa untuk memberikan penghormatan terakhir.
Setelah selesai dia kembali melihatku dan Yang Qin dan berkata, "Ada orang yang melapor ke polisi, saya dan teman saya sudah pergi ke tempat kejadian. Pemilik dan koki rumah makan itu sudah meninggal."
Saat mendengar itu aku merasa sedikit sedih tapi aku tidak merasa terkejut sama sekali.
"Mayat pemilik rumah makan itu masih tersisa tapi mayat koki rumah makan itu sudah habis tak bersisa sama sekali."
Petugas polisi itu melihat ke arahku kemudian berkata lagi, "Saya dengar dari kepala desa saat itu nona ada di lokasi saat kejadian itu berlangsung?"
Aku menganggukkan kepalaku, lalu dia bertanya lagi: "Nona mengatakan bahwa mereka meninggal karena dimakan oleh serangga?"
"Benar, scarab."
"Tapi kami tidak menemukan ada serangga seperti itu di tempat kejadian."
"..."
Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, petugas polisi itu juga mungkin merasa perkataanku tidak masuk akal tapi tadi para penduduk desa juga melihat scarab di sini dan itu menjadi bukti bahwa aku tidak bicara sembarangan. Terlebih lagi pasti terlihat jelas ada bekas gigitan pada mayat itu...
"Saya belum melaporkan kejadian ini ke atasan karena ingin lebih memahami keadaan yang sebenarnya." kata petugas polisi itu kemudian dia mengambil kursi dan duduk di seberang kami, setelah itu dia mengeluarkan buku catatan kecil berwarna hitam dan sebuah bolpoin kemudian mulai menanyaiku.
"Tolong katakan kapan nona tiba di rumah makan tersebut."
Aku berusaha mengingat sedetail mungkin dan menjawab, "Kurang lebih siang pukul 2 lebih 40 menit."
"Selain nona ada siapa lagi?"
"Ada 3 orang teman dan putriku."
"Kalian semua melihat serangga itu?"
"Iya."
"Apa nona bisa menjelaskan bentuk dari serangga itu? Mungkin jika diperlukan kasus ini akan melibatkan ahli biologi." kata petugas polisi sambil menulis apa yang aku katakan sebelumnya dengan serius, setelah itu dia melihat ke arahku dan menunggu jawabanku.
Aku menarik nafas dalam kemudian menceritakan bentuk scarab tersebut. Kemudian aku tidak bisa menahan diri dan berkata kepada petugas polisi itu, "Apa kalian sudah memeriksa rumah makan itu dengan baik? Mungkin scarab itu bersembunyi di dalam rumah makan, mereka takut dengan api sehingga jika perlu kalian bisa menggunakan api untuk membunuh mereka."
"Ada lagi?"
"Jumlah mereka sangat banyak dan diantara mereka ada raja scarab, raja scarab berukuran lebih besar dari scarab lainnya dan dia berwarna merah jika kalian bisa membunuh raja scarab maka scarab yang lain pasti akan mati."
Aku menjawab pertanyaan petugas polisi dengan serius dan jujur. Aku juga mengatakan semua yang aku tahu kepadanya tapi dia malah tertawa dingin dan berkata, "Raja scarab? Apa nona tidak merasa hal itu terlalu kekanak-kanakan? Sekarang nona ikut dengan saya, semua orang yang ada di tempat kejadian juga harus ikut ke kantor polisi."
"Kami hanya saksi mata."
"Karena saksi mata sehingga perlu introgasi lebih lanjut."
"Apa kalian sudah melakukan tindakan pencegahan? Kalian tidak tahu seberapa mengerikannya, sekarang mereka sedang dalam masa kawin dan mereka bisa menyerang manusia." kataku dengan panik.
Petugas polisi itu menutup buku catatannya dan memasukkannya ke dalam kantong bajunya, dia bangkit berdiri sambil menarik tanganku.
"Kita tidak perlu membahas tentang scarab itu ada atau tidak, silahkan ikut dengan saya."
"Anda tidak lihat aku sedang berkabung?" kataku sambil melepaskan tangannya kemudian dia melihat ke arahku dan berkata, "Saya tidak peduli sedang berkabung atau berbahagia yang jelas sekarang silahkan ikut dengan saya."
Aku merasa tidak berdaya dan sepertinya tidak memiliki pilihan lain selain bekerjasama untuk penyelidikan.
Aku menoleh ke arah Yang Qin lalu berkata, "Aku akan pergi sebentar, aku serahkan di sini padamu."
Yang Qin bangkit berdiri kemudian aku melihat dia seperti akan melakukan sesuatu kepada petugas polisi itu lalu dengan cepat aku menghalanginya dengan berkata, "Tunggu aku kembali."
"Sixi…"
"Tunggu aku."
"..."
Yang Qin akhirnya membiarkan aku pergi bersama petugas polisi itu.
Saat terakhir kali menolehkan kepalaku, aku sudah tidak melihat Yang Qin lagi.
Petugas polisi itu kemudian bertanya, "Sekarang dimana 3 orang yang bersamamu di rumah makan?"
"Di rumahku."
"Bawa saya menemui mereka."
…
Saat tiba di rumah aku dapat mendengar suara Yang Qinxue yang menangis dengan keras. Lampu rumah menyala dan sepertinya mereka semua belum istirahat.
Aku mengetuk pintu gerbang dan tidak lama kemudian Shang Liqi keluar dari kamar.
Saat melihatku bersama dengan petugas polisi Shang Liqi terlihat terkejut. Dia membuka pintu dan saat akan mengatakan sesuatu petugas polisi itu malah bertanya lebih dahulu: "Ini orangnya?"
"Benar."
"Apa yang terjadi?" tanya Shang Liqi kebingungan.
"Penduduk desa melapor ke polisi tentang kejadian di rumah makan tadi siang. Kita adalah saksi mata dan dia mengatakan perlu melakukan introgasi."
"Sial!" kata Shang Liqi dengan tidak berdaya.
Petugas polisi itu mengerutkan alisnya kemudian dia masuk ke dalam halaman dan langsung menuju ke dalam rumah.
Aku dan Shang Liqi mengikutinya.
Saat masuk aku melihat Meng Tian sedang menggendong Yang Qinxue yang sedang menangis dengan sangat keras dan berusaha menenangkannya..
Aku melangkah maju dan mengambil Yang Qinxue dari Meng Tian, setelah menggendongnya beberapa saat akhirnya dia menjadi tenang.
Petugas polisi sambil melihat ke arah Shang Liqi, Meng Tian, dan Shang Yi secara bergantian kemudian dia melihat ke arahku dan bertanya, "3 orang teman dan 1 anak perempuan adalah mereka?"
Aku menganggukkan kepalaku.
"Jangan hanya mengangguk, aku tanya apa benar mereka orangnya?" tanya petugas polisi itu lagi dengan tidak sabar.
Aku menahan dan menjawab dengan sopan, "Iya."
"Baiklah kalian semua ikut ke kantor polisi."
Tidak ada yang berusaha menolak atau memberontak, kami semua menurut dan mengikuti petugas polisi itu keluar dari rumahku.
Kami berjalan hingga ke rumah makan di sebelah timur desa kemudian di sana masih ada banyak penduduk desa dan lampu rumah makan itu masih menyala dengan terang. Aku dapat melihat beberapa bayangan orang dari jendela rumah makan itu, mereka adalah polisi.
Di halaman rumah makan itu ada 2 mobil polisi yang berhenti dan ada banyak penduduk desa yang berkumpul di sana sehingga benar-benar terlihat kacau.