Chapter 406 of 406
Chapter 406
4 min read1,052 words
Seketika bulu kudukku berdiri dan tanpa sadar aku melangkah mundur kemudian terjatuh di lantai.
Yang Qinxue benar-benar membuatku takut. Aku tidak pernah melihat ekspresinya yang seperti itu.
"Mama, gambaranku bagus kan?" kata Yang Qinxue sambil bangkit duduk. Dia tersenyum hingga matanya berbentuk bulan sabit lalu dia terlihat menggemaskan seperti biasanya dan seketika senyuman menyeramkan itu menghilang.
Aku melihat ke arahnya dengan tatapan takut, aku seperti tidak mengenalnya lagi. Kenapa Yang Qinxue berubah seperti ini?
Di dinding ada begitu banyak gambar yang mengerikan tapi apa semua itu digambar oleh Yang Qinxue? Aku benar-benar tidak berani mempercayainya.
Aku bangkit berdiri kemudian dengan hati-hati menyentuh tangan Yang Qinxue, dia melihat perban di tanganku lalu mengusapnya dengan lembut.
"Mama, maafkan aku. Aku sudah melukai mama, aku tidak sengaja."
Dia meminta maaf kepadaku? Hal ini membuatku terkejut lagi…
Pagi ini dia bersikeras tidak mau meminta maaf kepadaku tapi sekarang sikapnya berubah drastis, tapi karena dia meminta maaf aku tidak punya alasan untuk tidak memaafkannya.
Terlebih lagi dia adalah putriku sendiri, aku sudah tidak marah dengannya, hanya saja senyumnya yang mengerikan itu masih teringat dalam ingatanku ditambah dengan gambaran yang ada di dinding membuatku merinding ketakutan.
Aku merapikan rambutnya yang sedikit berantakan kemudian aku berbalik badan dan mengambil nampan yang berisi makanan kesukaannya.
"Kamu lapar kan?"
Yang Qinxue menganggukkan kepalanya.
"Mau makan?"
"Aku mau mama menyuapiku!"
"Baiklah, mama suapi."
…
Setelah makan dengan kenyang, Yang Qinxue tersenyum dengan lepas.
Dia terlihat seperti tidak terjadi apa-apa. Ia turun dengan tangga dengan bahagia lalu berlari ke arah Yang Qin dan Shang Liqi.
Awalnya aku mengira dia mencari Yang Qin tapi ternyata saat tiba di sofa dia langsung menempelkan dirinya ke Shang Liqi. Dia tertawa pada Shang Liqi dan bertanya, "Paman tampan, kapan aku bisa pergi ke apartemen paman?"
Shang Liqi tertegun lalu memegang dahi Yang Qinxue dan bergumam, "Kamu demam ya?"
Yang Qinxue melepaskan tangan Shang Liqi lalu berkata, "Malam ini aku bisa menginap di apartemen paman? Aku mau tidur bersama paman, aku juga mau mendengarkan dongeng sebelum tidur."
"Tidak bisa. Paman sudah bilang kamu tidak boleh datang ke apartemen paman lagi, kamu sudah lupa?"
Sikap Shang Liqi sangat tegas dan dia terdengar tidak ingin dibantah.
Terakhir kali aku dengar Yang Qinxue hampir saja meledakkan tempatnya, tidak heran jika dia tidak mengijinkan Yang Qinxue datang ke apartemennya lagi.
"Kenapa?"
"Kamu tidak menurut."
"Kalau begitu jika aku menurut boleh?" kata Yang Qinxue sambil menatap Shang Liqi dengan penuh harapan.
Shang Liqi ragu-ragu lalu dia melihat ke arah Yang Qin seolah meminta pertolongan.
"Jika tidak, malam ini paman menginap di sini saja." kata Yang Qinxue.
Shang Liqi memegang dahinya dengan tidak berdaya. Yang Qin melihat ke arah Yang Qinxue dan membuka mulutnya tapi berakhir dengan tidak mengatakan apa-apa.
Malam itu jauh lebih tenang dari yang aku bayangkan.
Setelah mendengarkan Shang Liqi menceritakan dongeng tidur, Yang Qinxue langsung tidur.
Keesokan harinya sebelum pergi ke sekolah, aku mampir ke rumah sakit untuk melihat keadaan Zhang Xiao Jie tapi akhirnya aku tidak dapat masuk karena nenek Zhang Xiaojie menahanku di luar.
Dalam 1 malam dia terlihat berubah menjadi sangat kurus dan kantong matanya terlihat sangat hitam.
Saat melihatku dia terlihat tidak senang.
"Jangan datang kemari, masalah ganti rugi pengacara akan menghubungi kalian."
Setelah mengatakan itu dia membuang buket bunga yang aku beli untuk Zhang Xiaojie ke tempat sampah dengan wajah datar.
...
Setelah kelasku selesai, masih ada waktu sebelum jam makan siang dan karena merasa bosan, aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan.
Di perpustakaan tidak ada banyak orang. Selain petugas perpustakaan, hanya ada beberapa siswa di sana.
Aku berjalan melewati rak demi rak dan setelah beberapa saat aku tidak menemukan buku yang membuatku tertarik.
Saat aku sedang melihat ke buku-buku di rak tiba-tiba aku melihat bayangan yang tidak asing.
Aku melihat ke bayangan itu, bayangan seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap. Dia menggunakan atasan berwarna putih dan celana panjang hitam.
Aku tidak asing dengan bayangan itu, dia terlihat seperti Yang Qin dan dia sedang berdiri di depan rak buku sambil membaca buku.
Aku mendekatinya dengan dan saat sudah dekat tiba-tiba dia berbalik badan, itu Yang Qin.
"Bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanyaku dengan kebingungan.
Dia tersenyum dan menjawab, "Membaca buku."
"Kamu datang kemari hanya untuk membaca buku?"
Aku benar-benar tidak bisa memahaminya. Di vila ada ruang baca, walaupun tidak besar tapi buku di dalamnya cukup lengkap jadi aku rasa dia tidak perlu datang kemari hanya untuk membaca buku. Terlebih lagi di dekat vila ada toko buku yang baru buka, jadi kenapa dia harus kemari untuk membaca buku?
Apa dia hanya mencari alasan untuk datang menemuiku? Tapi aku baru saja pergi dari rumah pagi ini.
Saat memikirkan itu aku ingin tertawa.
"Kalau kamu mau melihatku bilang saja langsung, untuk apa mencari alasan." kataku dengan suara kecil.
Dia tertawa lalu mengembalikan buku yang dia pegang ke rak buku, setelah itu dia mengulurkan tangannya dan mendorong pundakku hingga ke dinding.
Seketika aku meragukan apa yang ingin dia lakukan, wajahnya semakin mendekat ke arahku...
"Apa yang kamu lakukan?"
"Menurutmu?" kemudian dia tersenyum seolah memiliki maksud tersembunyi.
Saat dia hampir menciumku, aku melihat ada tahi lalat di telinganya. Seketika aku langsung panik dan mendorongnya!
Dia bukan Yang Qin, tapi Mo Xuan!
Jika aku tidak melihat tahi lalatnya, maka aku pasti akan dicium olehnya!
Aku benar-benar tertipu dengan Mo Xuan!
"Lagi-lagi kamu mau meniru Yang Qin!" kataku dengan kesal. Jantungku berdegup dengan cepat dan aku merasa panik.
Dia adalah iblis itu! Walaupun wajahnya sangat mirip dengan Yang Qin tapi bagiku dia hanyalah iblis, tidak lebih dari itu.
Mo Xuan memegang kepalanya dengan canggung lalu dia memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya lalu bersandar di dinding sambil melihat ke arahku.
Aku menjauh darinya dan tidak ingin terlalu dekat dengannya.
"Apa yang ingin kamu lakukan sebenarnya?"
Dia tertawa lalu dengan santai berkata, "Kamu tidak perlu panik, aku tidak akan melukaimu."
"Aku peringatkan jangan muncul di sekitarku lagi."
Dia tertawa lagi dan berkata, "Ini perpustakaan bukan tempat tinggalmu. Terlebih lagi kita bertemu secara tidak sengaja kan?"
"..."
Aku tidak bisa berkata apa-apa untuk melawan perkataannya.
Aku menggertakan gigiku dan dengan cepat berjalan ke pintu keluar.
Aku tidak mendengar ada suara langkah kaki yang mengikutiku. Begitu keluar dari perpustakaan, aku menghela nafas lega.
Walaupun wajah Mo Xuan dan Yang Qin sangat mirip hingga aku tidak bisa membedakannya tapi dia bukan Yang Qin, dia adalah iblis. Aku tidak percaya tadi aku hampir saja dicium olehnya!