Chapter 342 of 406
Chapter 342 - Upacara Penghormatan Terakhir Yang Kacau 1
5 min read1,215 words
Yang Qinxue makan dengan lahap hingga bubur berceceran di bajunya. Setiap kali setelah menyuapi Yang Qinxue, Yang Qin mengelap bibir dan dagu Yang Qinxue. Dia melakukan itu dengan bahagia.
Biasanya aku dan tante Ji Li yang melakukan itu tapi karena tante Ji Li sudah meninggal, sekarang aku dan Yang Qin yang melakukan semuanya.
Walaupun aku tidak memiliki selera makan tapi aku memaksakan diri untuk makan beberapa suap, setelah itu Shang Yi mengatakan ingin mengadakan upacara penghormatan terakhir untuk tante Ji Li.
Berdasarkan adat desa, tante Ji Li harus dimakamkan di tempat pemakaman keluar Ji.
Hari itu kami memutuskan untuk memakamkan tante Ji Li di dalam desa, Shang Liqi dan Meng Tian juga setuju lalu mereka menyiapkan foto tante Ji Li.
Di dekat desa ada sebuah toko yang menjual peti mati. Biasanya jika ada penduduk desa yang memerlukannya, mereka akan memesan di toko itu.
Kami pergi ke toko itu kemudian membeli 1 peti mati beserta beberapa karangan bunga, lampion putih, dupa dan perlengkapan lainnya lalu kami pergi ke rumah duka di desa.
Shang Yi menyetir sepanjang perjalanan, aku dan Yang Qin duduk di belakang. Karena tidak ada orang yang menjaga Yang Qinxue di villa jadi kami membawanya juga.
Yang Qinxue selalu memainkan boneka yang ada di tangannya, terkadang dia melihat keluar jendela dengan mata terbelalak, terkesan dengan pemandangan yang dia lihat… Yang Qinxue benar-benar terlihat sangat menggemaskan.
Rumah duka yang di dalam desa kosong dan tidak ada upacara penghormatan terakhir apapun di sana.
Karena perlu mengabari kepala desa untuk menggunakan rumah duka, aku membawa Yang Qinxue pergi ke rumah kepala desa sedangkan Yang Qin dan Shang Liqi mengurus peti mati.
Untung saja kepala desa ada di rumah, jika aku datang terlambat dia pasti sudah pergi keluar.
Saat melihatku kepala desa begitu terkejut, terlebih saat melihatku menggendong Yang Qinxue.
"Ini…"
"Putriku, Qinxue, Yang Qinxue."
Tidak seperti penduduk desa yang lain, kepala desa termasuk salah satu orang yang melihatku dengan tatapan normal.
Dia tertawa dan berkata, "Astaga kamu sudah punya anak!"
"Iya."
"Ayo masuk, duduk dulu aku akan buatkan teh." kata kepala desa dengan sopan.
Saat kepala desa berjalan ke arah dapur, aku dengan cepat memanggilnya, "Pak kepala desa, tante Ji Li meninggal. Berdasarkan adat desa, kami ingin mengadakan upacara penghormatan terakhir sehingga ingin menggunakan rumah duka."
Langkah kaki kepala desa terhenti lalu dia menoleh melihat ke arahku dan dengan terkejut bertanya, "Ji Li meninggal?"
"Iya."
"Bukankah keadaannya baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba…"
"..."
Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Kematian tante Ji Li tidak normal dan aku tidak bisa mengatakan kepada kepala desa bahwa tante Ji Li meninggal karena iblis. Setelah aku ragu-ragu akhirnya aku berbohong dengan berkata, "Tante Ji Li sakit."
"Tidak mungkin, aku ingat dia selalu sehat."
"Dua tahun belakangan ini jantung tante Ji Li bermasalah."
Kepala desa menganggukkan kepalanya dan tidak bertanya lagi, kemudian dengan sedih bertanya, "Apa papamu tahu tentang hal ini?"
"Aku belum memberitahunya."
"Masalah sebesar ini kamu harus memberitahunya, bagaimanapun dia adalah papa kandungmu."
"Aku tahu."
Sebenarnya walaupun kepala desa tidak mengingatkanku, aku sudah berencana untuk menelpon Ji Wentai… sepertinya aku tidak bisa menghindari pertengkaran kali ini...
Tidak lama setelah Ji Wufu meninggal, tante Ji Li ikut meninggal… Ji Wentai pasti berpikir itu semua karena diriku.
Dimatanya aku hanyalah orang yang tidak seharusnya hidup di dunia ini.
Aku mempersiapkan diriku karena aku tahu dia tidak akan mengatakan hal yang enak di dengar, tapi dia berhak untuk mengetahui hal ini.
Setelah keluar dari rumah kepala desa, aku memikirkan cara untuk memberitahu Ji Wentai, datang ke rumahnya atau menelponnya untuk memberitahu kabar ini. Setelah berpikir panjang lebar akhirnya aku memutuskan untuk menelponnya.
Tidak lama setelah menelpon Ji Wentai dia mengangkat teleponnya.
Dengan suara dingin Ji Wentai bertanya, "Ada apa?"
"Tante Ji Li meninggal."
"Apa? Kamu bilang Ji Li juga…"
"Upacara penghormatan terakhir ada di rumah duka desa jika, apa kamu mau datang?" kataku memotong perkataannya.
Setelah terdiam untuk beberapa saat, dia menutup telepon tanpa mengatakan apapun.
Ji Wentai menutup teleponku!
Dia bahkan tidak memberitahuku apakah dia akan datang atau tidak, dia juga tidak berusaha menghiburku… setelah menelponnya suasana hatiku menjadi lebih buruk.
Yang Qinxue menyentuh wajahku kemudian dia melingkarkan tangannya di leherku dan memberiku pelukan seolah sedang berusaha menghiburku, seketika aku merasa perasaanku menjadi lebih baik.
Yang Qinxue tubuh lebih cepat daripada anak pada umumnya. Walaupun dia masih belum bisa bicara tapi dia adalah anak yang pintar. Bola matanya yang berwarna hitam itu berbinar dan terlihat seolah bisa melihat isi hati semua orang yang dia lihat.
Setelah kembali ke rumah duka, aku melihat dekorasi di rumah duka sudah hampir selesai.
Mayat tante Ji Li berbaring di dalam peti mati, lampion dan karangan bunga juga sudah dipasang.
Kami menunggu di rumah duka dengan sabar, selain kami tidak ada orang lain yang datang untuk menyalakan dupa.
Pukul 2 lebih, Shang Liqi dan Meng Tian tiba membawa foto tante Ji Li.
Setelah menggantung foto tante Ji Li, Meng Tian memegang perutnya dan berkata, "Apa kita bisa makan dulu? Aku lapar sekali."
Shang Liqi mengangkat tangannya dan melihat jam tangannya kemudian berkata, "Sudah jam 2 lebih, sudah waktunya makan siang.
"Kalau begitu kita bisa pergi ke rumah makan untuk makan siang." saranku.
Saat pagi kami tidak makan sampai kenyang jadi tidak heran kalau kami semua lapar.
"Kalian pergi makan saja, aku akan menunggu di sini." kata Yang Qin.
Shang Yi menganggukkan kepalanya dan berkata, "Kalau begitu tempat ini aku serahkan kepadamu ya."
"Kami akan kembali dengan cepat."
Yang Qin menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Iya."
…
Rumah makan ada di sisi kiri desa dan tidak terlalu jauh dari rumah duka, hanya dengan berjalan kaki 10 menit kami sudah tiba di sana.
Karena sudah lewat jam makan siang, rumah makan itu begitu sepi. Pemilik rumah makan sedang menonton TV dan saat melihat kami masuk dia dengan cepat bangkit berdiri untuk menyambut kami.
"Untuk berapa orang?"
"Kami berlima." jawab Shang Liqi kemudian dia duduk di meja yang ada di depannya.
Meja makan di rumah makan ini berbentuk bulat lalu kami semua duduk dan pemilik rumah makan itu memberikan kami buku menu.
Pemilik rumah makan itu sepertinya mengenalku karena dia selalu diam-diam melihat ke arahku.
Shang Liqi memberikan buku menu kepadaku dan Meng Tian lalu berkata, "Kalian pesan dulu."
Meng Tian tanpa ragu membalik-balik buku menu dan melihat menu-menu yang ada di rumah makan itu.
"Apa ada makanan yang lunak? Seperti bubur atau semacamnya." tanyaku kepada pemilik rumah makan.
Kali ini dia melihatku dengan berani kemudian menjawab dengan wajah tegang, "Ada bubur, bubur udang, bubur jagung, bubur labu juga ada."
"Aku pesan bubur labu."
"Baik, apa ada lagi?"
"Tunggu mereka memesan."
"Baik."
Setelah mencatat pesananku, pemilik rumah makan itu bertanya dengan ragu-ragu, "Apa kamu adalah Sixi dari keluarga Ji?"
"Benar."
"Pantas saja aku merasa kamu mirip dengannya, ternyata itu kamu." setelah itu dia tertawa canggung dan bergeser ke samping seolah berusaha menjauhiku.
Aku tidak mengatakan apapun dan pemilik rumah makan itu juga tidak mengatakan apapun.
Setelah selesai memesan pemilik rumah makan itu membawa buku menu ke dalam dapur lalu memberi kami 1 teko teh.
Saat makanan belum disajikan Yang Qinxue terus mengulurkan tangannya dan terlihat seperti berusaha untuk memegang sesuatu hingga dia juga menarik-narik rambutku.
Aku mengira karena dia lapar lalu dengan sabar berkata, "Qinxue sabar ya, sebentar lagi bubur labumu akan matang."
Lalu dia menangis dengan keras, lalu memanggil Yang Qin dan terkadang memanggilku… aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya.