Chapter 354 of 406
Chapter 354 - Panik
5 min read1,188 words
Aku memanggil Lin Xiao dengan suara keras tapi tidak ada orang yang menjawab.
Aku memberikan tas ranselku kepada Ziyang lalu berkata, "Bantu aku bawa ini."
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Ziyang.
"Memanjat dinding untuk masuk ke dalam."
"Itu ilegal, kamu menerobos rumah orang."
"Sekarang nyawa orang sedang dalam bahaya, kamu masih memperdulikan hal itu?"
"..."
Ziyang tidak mengatakan apa-apa dan akhirnya membawakan tasku.
Tasku sangat berat sehingga saat dia menerima tasku dia menggerutu tapi aku tidak mempedulikannya, untung saja dindingnya tidak terlalu tinggi sehingga aku bisa memanjatnya tanpa bersusah payah.
Setelah berhasil masuk ke halaman aku mengambil tas ranselku dari Ziyang lalu berkata kepada Ziyang dan ibunya, "Kalian tunggu di sini, jangan masuk."
"Kamu masuk sendiri?"
"Iya, jangan masuk apapun yang terjadi. Jika ada sesuatu yang aneh cepat lari ke arah utara tempat lahan kosong di tempat semua penduduk desa berkumpul. Mengerti?"
Ziyang dengan wajah pahit menganggukkan kepalanya.
Aku baru saja berbalik badan dan ingin berjalan masuk ke rumah Lin Xiao, Ziyang menarik tanganku dan bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Di desa muncul serangga pembunuh yang disebut scarab."
"Scarab?"
"Iya, serangga itu sangat berbahaya karena bisa melukai manusia. Jika dalam 10 menit aku tidak keluar maka kalian cepat pergi dari sini."
Ziyang mengerutkan alisnya kemudian dengan wajah panik berkata, "Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku akan mengurus diriku sendiri."
"Kamu harus hati-hati."
"Iya."
Kemudian aku berbalik badan dan berjalan ke pintu rumah Ziyang, pintu rumahnya terkunci lalu aku mengetuk pintu tapi tidak ada orang yang membuka pintu.
Aku mengintip dari jendela tapi aku hanya bisa melihat isi ruang tamu, ada 2 pintu tapi semuanya tertutup dan aku tidak tahu apakah ada orang di rumah itu atau tidak. Tapi karena masih pagi mereka seharusnya belum keluar dari rumah, walaupun mereka sudah keluar rumah tapi jika mereka melihat tidak ada seorangpun di jalan, apa mereka tidak akan merasa aneh?
Setelah ragu-ragu sejenak, aku membulatkan tekad lalu mencari batu untuk memecahkan kaca jendela tersebut. Aku membersihkan sisa potongan kaca yang ada di jendela kemudian masuk ke dalam.
Di dalam rumahnya cukup gelap karena jendelanya tidak terlalu besar dan ditutup dengan kertas.
"Apa ada orang?" teriakku.
Tapi di dalam ruangan itu sangat tenang, tidak ada orang yang menjawab.
Aku masuk ke salah satu pintu yang tertutup dan menekan pegangan pintu hingga terbuka.
Aku mendorong pintu itu dan di dalam sangat gelap karena jendela tertutup dengan gorden, tapi aku dapat melihat tidak ada siapapun di sana.
Kamar itu tidak besar, melihat dekorasi kamar itu maka terlihat jelas bahwa itu adalah kamar Lin Xiao dengan buku-bukunya di atas meja.
Dengan cepat aku pergi ke pintu satunya, setelah membuka pintunya aku dapat melihat itu adalah kamar orang tua Lin Xiao tapi lagi-lagi tidak ada siapapun di dalam kamar itu.
Aku menjadi waswas...
Mereka harusnya ada di rumah, tapi kenapa rumah ini kosong?
Apa mereka bertemu dengan scarab?
Tapi mayat mereka pun tidak ada sama sekali, lalu apa scarab memakan tubuh mereka sampai habis?
Saat aku pemikiran itu mendatangiku, dengan cepat aku menyangkalnya. Walaupun mereka bertemu dengan scarab dan tubuh mereka dimakan tapi bagaimana dengan tulang mereka?
Lagi pula di dalam rumah sama sekali tidak ada bercak darah, hal ini sangat aneh.
Aku memutuskan untuk mencari mereka di dapur dan kamar mandi tapi tidak ada siapa-siapa.
Kemudian di atas meja ada sebuah debu yang cukup tebal sepertinya sudah beberapa hari tidak di bersihkan.
Apa keluarga Lin Xiao tidak ada di rumah selama beberapa hari?
Saat memikirkan itu tiba-tiba aku mendengar suara Ziyang berteriak.
"Sixi, aku baru ingat. Keluarga Lin Xiao sepertinya pergi ke rumah nenek dari pihak mamanya, mereka sudah pergi beberapa hari yang lalu jadi seharusnya rumahnya kosong."
Saat mendengar itu aku merasa sangat lega.
Tapi saat aku berbalik badan dan akan berjalan keluar tiba-tiba aku mendengar suara dari belakangku.
Aku langsung menoleh untuk mencari sumber suara, suara itu berasal dari pipa air yang ada di dapur.
Sebelum aku sempat melakukan apapun tiba-tiba muncul benda hitam dari tempat cuci piring yang ada di dapur… itu scarab!
Seketika seluruh bulu kudukku berdiri dan aku berlari keluar.
Scarab itu bergerak dengan sangat cepat, mereka sedang mengejarku tapi tentu saja pintu depan tidak bisa terbuka.
Seharusnya aku tahu pintu itu pasti dikunci dari luar tapi karena panik aku berlari kesana. Aku mulai berkeringat dan dengan cepat mengeluarkan sebotol alkohol dari dalam tas ransel dan membakar kain yang ada di ujung botol alkohol.
Aku melemparkan botol alkohol itu ke atas lantai dan botol itu pecah lalu api menyebar di lantai dan dalam sekejap scarab tersebut berhenti mengejarku karena terhalang oleh api.
Aku memanfaatkan waktu itu untuk mendobrak pintu dengan kakiku tapi tetap tidak berhasil sehingga aku memutuskan untuk keluar melalui jendela.
Ziyang dan tante Yang berada di luar, saat melihatku keluar wajah mereka terlihat lega.
"Cepat pergi dari sini, ada scarab." teriakku kepada mereka berdua.
Saat mereka mendengar itu, seketika raut wajah mereka berubah kemudian mereka berbalik badan dan berlari pergi.
Ziyang menarik tangan tante Wang dan berlari bersama. Begitu aku keluar dari halaman rumah, aku juga berlari mengikuti mereka.
Setelah berlari beberapa ratus meter, aku melihat ke belakang dan tidak ada scarab yang mengejar kami sehingga aku berhenti berlari.
Tubuh tante Wang lemah sehingga setelah ditarik oleh Ziyang untuk berlari sejauh itu dia sudah kelelahan. Dengan nafas terengah-engah dia melambaikan tangannya dan berkata, "Ziyang, mama tidak kuat lagi."
Ziyang akhirnya juga ikut berhenti dan mereka berada beberapa meter di depanku.
Aku mengelap keringat di dahiku kemudian berjalan menghampiri mereka sambil menepuk tas hitam yang aku bawa lalu dengan tersenyum berkata, "Sepertinya cara ini memang efektif, dia menyelamatkan nyawaku."
Sebelum aku sempat menutup resleting tas, Ziyang mengulurkan kepalanya dan melihat isi tas itu, lalu dia mengangkat ibu jarinya ke arahku.
"Aku sudah bilang tubuhmu bau alkohol. Jika itu aku maka aku pasti tidak akan terpikirkan untuk menggunakan botol alkohol."
"Bagaimana lagi, scarab hanya takut dengan api."
Setelah berhasil selamat, sekarang yang aku khawatirkan adalah bagaimana jika rumah Lin Xiao habis terbakar karena diriku?
Tapi tidak ada cara lain. Lagi pula saat tim khusus datang, mereka akan menghancurkan semua tempat di desa untuk memusnahkan scarab kemudian pemerintah akan bertanggung jawab untuk biaya pembangunan.
"Lalu sekarang kita pergi kemana?" tanya Ziyang kepadaku.
"Rumah si gendut, orang tuanya tidak ada di tempat perkumpulan warga."
Ziyang kemudian dengan wajah ragu-ragu berkata, "Scarab itu sudah ada di rumah Lin Xiao, aku takut orang tua si gendut…"
"Belum tentu, bukankah kamu dan mamamu baik-baik saja? Jangan berpikir yang tidak-tidak. Sebaiknya kita pergi dulu untuk melihat keadaan orang tua si gendut."
Ziyang menganggukkan kepalanya, tapi tante Wang malah terkejut dan wajahnya terlihat pucat.
Dia memegang tangan Ziyang dan terlihat seperti akan menangis berkata, "Ziyang, bagaimana jika kita tidak usah menemani Sixi? Kita langsung pergi ke tempat para penduduk berkumpul saja, mama khawatir jika terjadi sesuatu."
"Tidak apa-apa ma, kita tunggu di depan saja biarkan Sixi mengurus sisanya."
"Tapi mama masih khawatir."
"Khawatir apa? Kita kan tidak masuk, yang menghadapi bahaya adalah Sixi."
Tante Wang tidak berkata apa-apa lagi.
Aku juga tidak mengatakan apapun. Sebenarnya aku bisa menyuruh mereka langsung ke tempat para penduduk berkumpul tapi aku khawatir saat dalam perjalanan mereka menemui bahaya sehingga aku menyuruh mereka ikut denganku karena setidaknya aku memiliki 'Senjata' yang bisa digunakan.