Skip to content

Chapter 355 of 406

Chapter 355 - Bersikeras

5 min read1,188 words

Sepanjang perjalanan ke rumah si gendut, tante Wang selalu mengeluh lelah sehingga Ziyang membawanya ke samping jalan untuk duduk dan aku mau tidak mau juga ikut berhenti.

Raut wajah Tatne Wang tidak terlihat baik, wajahnya penuh dengan keringat.

Ziyang mengulurkan tangannya dan memegang dahi tante Wang, lalu dia mengerutkan alisnya.

"Sixi, 2 hari ini kondisi mamaku tidak terlalu baik, bagaimana jika kamu memberikan 2 botol alkohol yang kamu miliki kepada kami sehingga kami akan pergi sendiri ke tempat penduduk desa berkumpul." kata Ziyang.

Aku berpikir sejenak dan merasa ide itu tidak buruk juga.

Aku mengeluarkan 2 botol alkohol dari dalam tas dan memberikannya kepada Ziyang lalu dia bertanya, "Korek apinya?"

"Kamu tidak punya?"

"Aku tidak merokok tentu saja aku tidak punya korek api."

"Aku hanya punya 1."

"..."

Sepertinya memang kami harus berjalan bersama, tidak ada cara lain.

Aku memasukkan kembali kedua botol alkohol ke dalam tas kemudian menutupnya, lalu berkata kepada tante Wang, "Tante bertahan sedikit lagi ya. Setelah kita menemukan orang tua si gendut, kita akan langsung pergi ke tempat para penduduk desa berkumpul."

Tante Wang dengan wajah tidak berdaya menganggukkan kepalanya dan dengan suara lemah berkata, "Baiklah, tante akan mendengarkanmu."

Setelah beristirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan.

Rumah Lin Xiao dari rumah si gendut sedikit jauh, ditambah lagi kami beristirahat di tengah jalan jadi setelah 30 menit kami baru tiba di rumah si gendut.

Tapi kondisi rumahnya sama sekali berbeda dari kondisi rumah Ziyang.

Saat baru tiba di depan halaman rumahnya aku mendengar suara orang tua si gendut dan mereka sepertinya sedang bertengkar.

"Aku sudah bilang hari ini adalah ulang tahun anak kita jadi kita harus merayakan ulang tahunnya tapi kamu malah bilang hari ini mau pergi bekerja? Apa kamu tidak bisa tinggal di rumah 1 hari untuk merayakan ulang tahun anak kita?"

"Kamu jangan aneh-aneh, kamu sakit ya? Minum obat sana."

"Siapa yang sakit? Kamu yang sakit."

"Kamu lihat jam berapa ini, jika aku tidak berangkat sekarang maka aku akan terlambat."

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Ini adalah ulang tahun anak kita jadi kamu harus di rumah merayakannya."

"Kamu benar-benar sudah gila."

…

Orang tua si gendut sedang bertengkar dan kami dapat mendengarnya dengan sangat jelas.

Semenjak si gendut meninggal, keadaan ibu dari si gendut, tante Wang, tidak begitu baik. Dia menerima pukulan yang begitu besar karena kematian si gendut jadi sekarang ia harus mengkonsumsi obat-obatan untuk dapat hidup seperti orang normal.

Walaupun saat kecil dia suka menindasku tapi bagaimanapun dia adalah temanku.

Walaupun setelah dia meninggal terjadi hal yang tidak menyenangkan tapi sekarang dia sudah tidak ada lagi dan aku juga tidak berharap sesuatu yang buruk terjadi kepada orang tuanya. Aku harus membawa orang tuanya dengan aman ke tempat perkumpulan penduduk desa.

Pintu halaman tertutup rapat.

Aku mengangkat tanganku dan melihat jam tangan, sekarang sudah pukul 9 lebih.

Tim khusus mengatakan akan datang pukul 8, walaupun mereka terlambat tapi seharusnya sekarang mereka sudah tiba.

Aku mengetuk pintu halaman kemudian menoleh melihat ke arah Ziyang dan tante Wang lalu berkata, "Kalian sebaiknya menunggu di luar."

"Baiklah."

Tidak lama kemudian paman Wang, ayah dari si gendut, keluar dari rumah dan saat melihatku dia terlihat tidak senang. Saat ia terlihat akan menutup pintu, dengan cepat aku menahannya.

"Paman Wang, terjadi sesuatu di desa dan sekarang seluruh penduduk desa sedang berkumpul di tanah kosong sebelah utara desa. Paman dan tante sebaiknya cepat pergi ke sana."

Dia melihatku dengan tatapan dingin lalu dengan tidak sabar berkata, "Walaupun memang terjadi sesuatu kenapa kamu yang datang kemari?"

"Paman Wang, dengarkan aku di desa benar-benar terjadi sesuatu dan itu sangat berbahaya"

"Jika memang berbahaya kenapa kamu yang datang? Kemana kepala desa dan pengurus yang lain?"

"Paman Wang, sekarang bukan saatnya…"

Paman Wang memalingkan pandangannya kemudian menutup pintu dengan sangat keras. Aku kembali mengetuk pintu tapi dia tidak membukakan pintu.

"Paman Wang! Paman Wang?"

Aku berteriak tapi tidak ada yang menjawab dan kembali terdengar suara pertengkaran dari dalam rumah.

Ziyang terlihat kesal kemudian dengan kuat menendang pintu dan berteriak, "Kalian mau keluar atau tidak? Jika tidak mau keluar dan meninggal jangan salahkan kami dengan mengatakan tidak memperingatkan kalian."

Tante Wang, ibu dari Ziyang, dengan cepat menarik tangan Ziyang dan memarahinya, "Kenapa kamu tidak sopan?! Mereka jauh lebih tua dari dari kamu, jaga sikapmu."

"Lebih tua? Lalu kenapa jika lebih tua? Kita datang kemari untuk menyelamatkan mereka tapi sikap mereka malah seperti itu."

"Ziyang, jaga bicaramu. Sikap mereka begitu ada alasannya." saat mengatakan itu tante Wang melihat ke arahku kemudian dia menarik tangan Ziyang ke samping.

Aku tahu apa maksud perkataan tante Wang. Aku yang menyebabkan kematian si gendut dan aku tidak bisa mengatakan apapun tentang hal itu tapi sekarang siatuasi sedang genting dan aku harus membuat orang tua si gendut keluar dari sini.

Karena scarab sudah keluar di rumah Lin Xiao, maka pasti tidak lama lagi para scarab itu akan muncul di seluruh desa. Walaupun tim khusus datang untuk memusnahkan scarab tapi aku khawatir orang tua si gendut akan tetap dalam bahaya jika tetap tinggal di rumahnya.

Aku terus mengetuk pintu.

"Paman Wang tolong buka pintunya."

"Jangan mengganggu kami, cepat pergi!" bentak pawan Wang dari dalam rumah.

Sepertinya mereka sama sekali terlihat tidak akan membuka pintu apa lagi keluar dari rumah.

Aku melihat ke arah dinding halaman mereka dan sepertinya tidak akan susah untuk memanjatnya.

Aku kembali memberikan tas ranselku kepada Ziyang, dia membelalakkan matanya dan bertanya, "Kamu mau memanjat dinding lagi?"

"Tentu saja, apa ada jalan lain?"

Dia memegang tas raselku kemudian saat aku baru saja berdiri di atas dinding halaman rumah si gendut dan belum masuk ke halaman aku melihat orang tua si gendut berdiri di halaman.

Saat tante Wang melihatku dia menunjuk ke arahku dan berteriak, "Ada pencuri!"

"Tante ini aku."

"Ada pencuri, ada pencuri masuk ke rumah kita."

Tante Wang membelalakkan matanya kemudian dia melihat ke sekelilingnya seolah mencari sesuatu, setelah itu dia menemukan sebuah tongkat lalu berlari ke arahku membawa tongkat itu.

Aku masih ada di atas dinding halaman saat tante Wang memukulkan tongkat itu padaku sehingga akhirnya aku terjatuh.

Saat terjatuh, aku merasa seluruh tulangku patah.

Ziyang membantuku berdiri kemudian dengan suara keras berkata, "Ada apa sebenarnya dengan kalian?! Sixi tidak perlu pedulikan mereka, biarkan mereka meninggal di sini."

"Tidak bisa."

"Mereka sudah melakukan ini, untuk apa kamu masih memperdulikan mereka?"

"Kamu tidak mengerti."

"Aku memang tidak mengerti, tidak ada orang yang datang menjemput kami tapi kamu datang seorang diri. Apa kamu tidak takut?" kata Ziyang dengan kesal.

Dengan sabar aku menjelaskan, "Mereka tidak tahu ada penduduk desa yang belum keluar dari rumah mereka."

"Tidak tahu? Lalu apa yang dilakukan oleh kepala desa dan para pengurus desa? Mereka tidak datang dan malah menyuruh perempuan untuk melakukan pekerjaan mereka. Apa mereka masih bisa menyebut diri mereka laki-laki?!"

"Bukan begitu, aku yang mengajukan diri untuk melakukan ini." kataku sambil membersihkan bajuku lalu melihat ke atas dinding, saat aku akan memanjat lagi Ziyang menarik tanganku.

"Tidak perlu pedulikan mereka, kita pergi dari sini."

Aku melepaskan pegangan tangannya tetap bersikeras berkata, "Aku sudah bilang tidak bisa."

Mungkin bagiku hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menebus rasa bersalahku atas meninggalnya si gendut, dengan menyelamatkan orang tuanya. Jika aku tidak melakukan ini, maka mungkin seumur hidup aku akan dihantui oleh rasa bersalah.