Skip to content

Chapter 356 of 406

Chapter 356 - Kemunculan Raja Scarab

4 min read1,079 words

Mungkin terkadang aku begitu egois. Untuk tetap mempertahankan hidupku, aku mengorbankan nyawa penduduk desa. Di kehidupanku sebelumnya aku tidak hanya berdosa dengan menjadi iblis 1.000 tahun tapi di kehidupanku sekarang aku juga menjadi seorang pendosa.

Sekarang karena sudah memiliki Yang Qinxue, aku semakin takut untuk meninggal. Aku tidak ingin meninggal tapi ada beberapa hal yang harus aku lakukan jika tidak aku akan menyesal seumur hidupku.

Ziyang tidak memahami hal ini, begitu juga dengan orang lain.

"Kamu benar-benar keras kepala." kata Ziyang dengan kesal kemudian dia dengan suara kesal bertanya, "Sekarang aku tanya, kamu mau pergi dari sini atau tidak?"

"Tunggu sampai orang tua si gendut keluar lalu kita akan pergi bersama."

"Kamu sudah gila ya? Kamu ingin menyelamatkan nyawa mereka tapi kamu tidak mempertimbangkan nyawaku dan mamaku? Kondisi mamaku sedang tidak sehat, dia tidak bisa membuang waktunya untuk menemanimu di sini."

"Ziyang, beri aku sedikit waktu lagi, aku janji…"

Tanpa menungguku selesai bicara, Ziyang mengangkat tas ranselku lalu mengambil korek api dari tanganku kemudian menarik tangan tante Wang dan berjalan pergi.

"Hei, kamu mau kemana?"

"Jika kamu mau tetap di sini silahkan saja tapi aku tidak akan membiarkan mamaku untuk membuang-buang waktu di sini." jawab Ziyang tanpa menoleh dan terus berjalan dengan cepat.

Aku ingin mengejarnya tapi saat aku baru melangkahkan kaki, aku tersandung hingga lututuku terluka dan berdarah...

"Ziyang!"

Ziyang tidak menjawabku, dia juga tidak berhenti dan dalam sekejap Ziyang dan ibunya, tante Wang, telah menghilang di persimpangan jalan.

Aku tidak memiliki senjata untuk melawan scarab. Seketika aku merasa resah tapi sekarang aku harus memikirkan cara untuk membuat orang tua si gendut mau mendengarkan aku.

Aku berpegangan pada dinding untuk bangkit berdiri kemudian kembali mengetuk pintu dengan keras.

"Paman, tante cepat buka pintunya."

Aku terus berteriak hingga tenggorokanku terasa sakit dan akhirnya paman Wang membuka pintu.

Wajahnya begitu suram, dia melihatku dengan kesal dan bertanya, "Kamu bisa berhenti tidak? Jika tidak aku akan melaporkanmu ke polisi."

"Polisi sekarang ada di lahan kosong sebelah utara desa, tim khusus mungkin sudah datang. Kondisi saat ini sangat berbahaya, di desa muncul serangga yang bisa membunuh manusia. Jangan meragukanku lagi, bawa tante keluar dan ikut denganku sekarang."

Raut wajah paman Wang sedikit berubah dan dia terlihat mulai ragu-ragu. Kemudian dengan cepat aku berkata, "Semua orang sudah berkumpul di tanah kosong sebelah utara desa, hanya tersisa paman dan tante. Percayalah kepadaku, aku tidak akan melukai kalian."

Saat aku baru menyelesaikan perkataanku terdengar suara teriakan, itu adalah suara teriakan tante Wang.

Dia berlari ke arahku lalu menarik paman Wang yang berdiri di depanku, kemudian menunjuk ke arahku sambil berkata, "Tidak akan melukai kalian? Kamu ini pencuri yang tadi berusaha menerobos rumahku, kamu ingin mencuri kan?"

Tante Wang sudah tidak mengenaliku. Dia hanya menganggapku sebagai pencuri yang memanjat dinding.

"Tante, aku adalah Sixi, tetangga tante."

"Sixi? Sixi siapa?" tanya tante Wang, wajahnya terlihat kebingungan kemudian setelah berpikir sejenak raut wajahnya berubah. Ia membelalakkan matanya dan berteriak ke arahku, "Kamu yang mencelakai anakku kan?!"

"Tante, tenang dulu. Sekarang kita harus pergi dari sini, di sini tidak aman."

"Bersamamu baru tidak aman, kamu sudah membunuh anakku. Kamu membunuh anakku…" tante Wang terus mengulang perkataan itu berkali-kali dan tubuhnya gemetar.

Aku tidak menyangka kematian si gendut membuatnya terpukul sampai seperti ini, melihat itu membuatku benar-benar merasa sedih.

"Paman Wang, jangan mengulur waktu lagi." kataku sambil memegang tangannya kemudian paman Wang melepaskan peganganku.

"Kami akan pergi tapi tidak bersamamu." kata paman Wang dengan dingin, dia menarik tante Wang masuk ke dalam halaman.

Kali ini dia tidak menutup pintu lagi.

"Paman Wang, apa yang paman lakukan?"

"Mengemasi barang-barang, walaupun harus pergi menyelamatkan diri tapi aku juga tidak bisa pergi dengan tangan kosong." jawab paman Wang dengan tidak sabar tanpa menoleh sedikitpun.

Saat mereka berdua masuk ke dalam rumah aku memanfaatkan kesempatan untuk masuk dan mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk senjata.

Tapi saat paman Wang sedang membereskan barangnya dia menyadari aku ikut masuk ke dalam rumah mereka lalu dia berteriak, "Siapa yang mengijinkanmu masuk?! Tunggu di luar!"

"Paman Wang apa di rumah paman ada korek api? Lalu benda yang mudah terbakar, seperti alkohol?"

"Kamu sedang bicara apa?"

"Kita harus menyiapkan senjata."

Karena mengetahui aku tidak memiliki niat jahat, raut wajah paman Wang menjadi lebih lembut dari sebelumnya.

"Kamu cari sendiri di dapur."

Dia menunjukkan arah dapur kemudian kembali masuk ke dalam kamarnya untuk berkemas.

Saat paman Wang sedang berkemas tante Wang hanya berdiri di ruang tamu sambil melamun.

Saat berjalan ke arah dapur, kakiku terasa sakit. Celanaku sobek dan lukaku penuh dengan darah bercampur tanah, jika tidak segera membersihkannya mungkin akan terinfeksi.

Saat masuk dapur, aku membuka lemari dan menemukan 2 botol alkohol putih, 1 botol sudah terpakai dan hanya tersisa setengah botol.

Aku mengambil 2 botol alkohol putih itu kemudian membuka sedikit celanaku yang sobek kemudian menyiramkan alkohol itu ke atas lukaku.

Rasanya begitu sakit, perih, dan menusuk!

Aku menggertakan gigiku untuk menahan rasa sakitnya, hingga tanganku yang memegang botol alkohol itu gemetar.

Lukaku dengan cepat menjadi lebih bersih kemudian aku menyobek bajuku dan menggunakan sobekan kain bajuku untuk membalut lukaku. Setelah itu aku menemukan korek api yang gasnya sudah hampir habis di dalam lemari.

Aku mencoba menggunakannya dan masih bisa menyala. Aku memasukkannya ke dalam kantongku. Aku menyobek bajuku lagi kemudian memasukkannya ke dalam mulut botol alkohol yang sudah tinggal setengah botol.

Kemudian aku membawa botol alkohol itu keluar dari dapur. Aku begitu terkejut saat melihat di belakang tante Wang. Ada seekor scarab di atas sofa. Itu bukan scarab biasa, tubuhnya berwarna merah dan ukurannya begitu besar. Scarab itu sedang mengepak-ngepakkan sayapnya.

Seketika dadaku terasa sesak.

Bukankah itu adalah raja scarab? Jika aku bisa membunuhnya maka scarab yang lain juga akan mati dengan sendirinya…

Tapi aku ingat raja scarab beracun, jika digigit olehnya tidak sampai 5 menit akan meninggal.

Sekarang tante Wang dalam bahaya, apa lagi dia sedang melamun.

"Tante!" panggilku.

Tiba-tiba ia melihat ke arahku dengan mata terbelalak, setelah itu dengan terkejut berkata, "Kamu pencuri yang memanjat dinding tadi, bagaimana kamu bisa masuk kemari?"

"..."

Tante Wang tidak mengingatku dan lagi-lagi ia menganggapku sebagai pencuri.

Dengan suara pelan aku berkata, "Tante tenang dulu. Dengarkan aku. Sekarang tante pelan-pelan melangkah mundur keluar dari rumah ini."

Saat mengatakan itu dengan hati-hati mendekatinya sambil mengamati pergerakan raja scarab yang ada di sofa.

Dia sedang mengepakan sayapnya tapi tidak terlihat akan menyerang atau melakukan sesuatu.

"Ada pencuri yang masuk ke rumah." teriak tante Wang secara tiba-tiba.

Raja scarab yang sebelumnya menggerak-gerakkan sayapnya tiba-tiba berhenti.

Seketika jantungku berdegup dengan kencang. Langkah kakiku juga berhenti seiring dengan raja scarab yang berhenti mengepakkan sayapnya.