Skip to content

Chapter 362 of 406

Chapter 362 - Permohonan Seorang Anak Perempuan

4 min read1,118 words

"Aku rasa kita perlu mencarikan taman kanak-kanak untuk Yan Qinxue." saran Yang Qin.

Aku menganggukkan kepala,"Perkataanmu benar, kalau begitu aku serahkan masalah itu kepadamu.

"…"

Yang Qin adalah orang yang mengurus segala sesuatu dengan cepat, dia langsung menelpon asisten Wen untuk mengurus segalanya.

Keesokan paginya asisten Wen datang ke villa membawa berkas-berkas mengenai taman kanak-kanak untuk Yang Qinxue. Aku dan Yang Qin melihat dokumen-dokumen tersebut dan setelah bergikusi kami memutuskan untuk memilih taman kanak-kanak swasta dengan lingkungan yang baik dan yang paling dekat dengan vila.

"Yang ini?" tanya Yang Qin kepadaku, kemudian aku menunjukkan foto taman kanak-kanak itu kepada Yang Qinxue lalu dia melihatnya dan bertepuk tangan dengan antusias.

"Yang ini."

Keesokan harinya, setelah semua dokumen yang diperlukan selesai diurus, kami mengantarkan Yang Qinxue ke sekolah barunya.

Setelah memastikan Yang Qinxue masuk ke dalam kelasnya dan melihat guru Yang Qinxue dengan sabar membimbing Yang Qinxue untuk berkenalan dengan teman-teman barunya, aku merasa sangat terharu.

Aku tidak pernah mengira di umur 20 tahun aku akan menjadi seorang ibu. Aku ingat dulu ada yang mengatakan kepadaku bahwa aku tidak akan hidup lebih dari umur 20 tahun tapi sekarang aku masih hidup dengan baik bahkan memiliki seorang putri yang menggemaskan.

Setelah memastikan Yang Qinxue baik-baik saja, Yang Qin mengantarkanku ke sekolah. Yang Qin membantuku mengurus dokumen-dokumen yang diperlukan untuk kembali kuliah dan dia melakukannya dengan cepat.

Dengan antusias aku menelpon An Jing, Liu Qiqi dan Hu Shan. Aku ingin memberitahu mereka bahwa aku akan kembali meneruskan kuliahku. Setelah mereka mendapat kabar ini, mereka ingin berkumpul bersama untuk merayakan hal ini.

Mendengar itu Yang Qin tertawa dan berkata, "Aku tidak akan ikut dengan kalian, aku akan menjemput Qinxue pulang dari sekolah. Kamu jangan pulang terlalu malam."

"Iya, sepertinya kamu semakin lama semakin bawel ya."

Yang Qin melihat ke arahku lalu dengan wajah datar dan mencubitku, "Aku? Bawel?"

Aku menganggukkan kepala dan dia mencubit pipiku dengan semakin keras hingga wajahku terasa sakit kemudian dengan cepat berkata, "Tidak bawel, tidak bawel."

Kemudian yang Qin baru melepaskan cubitannya.

"Paling lama jam 8 malam sudah sampai di vila, jika tidak aku akan menghukummu."

"Bagaimana cara menghukumnya?"

"Menurutmu?" tanya Yang Qin sambil mengangkat alisnya. Saat melihat kedua matanya tanpa sadar tubuhku gemetar.

Aku merasa dari sorot matanya dia akan menghukumku dengan menindasku di atas ranjang, selain itu aku tidak dapat memikirkan hukuman lain yang mungkin akan Yang Qin berikan.

Setelah itu Yang Qin masuk ke dalam mobilnya dan pergi. Saat dia baru saja pergi aku melihat An Jing dan yang lainnya dari kejauhan sedang melambaikan tangannya.

Aku sudah menghilang cukup lama. Saat mereka pertama kali melihatku setelah sekian lama, mereka semua melihatku dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Kamu terlihat kurusan, apa kesibukanmu akhir-akhir ini?" tanya Hu Shan sambil membelalakkan matanya.

Aku ragu-ragu apakah harus mengatakan kepada mereka bahwa sekarang aku adalah seorang ibu, tapi jika aku mengatakannya adalah mereka pasti meminta untuk bertemu dengan Yang Qinxue. Permasalahannya adalah Yang Qinxue berumur 1 setengah tahun tapi terlihat seperti berumur 4 atau 5 tahun, siapapun yang melihatnya pasti akan merasa aneh!

"Aku… hanya istirahat." akhirnya aku berbohong kepada mereka.

"Istirahat selama itu? Kamu tidak diam-diam memiliki anak dengan suamimu kan?" tanya An Jing.

Dia mengatakan itu sambil tertawa menggoda padaku.

Aku mulai berkeringat dingin dan berbohong lagi, "Tidak."

"Yang benar?" Kamu cuti selama 2 tahun! Dan kamu hanya mengatakan kamu tidak melakukan apapun? Mencurigakan."

Kemudian Hu Shan berkata, "Iya! Sebenarnya kamu melakukan apa saja? Beritahu kami."

Aku hanya tertawa bersama mereka kemudian Li Qiqi berkata, "Kalian ini baru saja bertemu setelah sekian lama malah menanyakan hal-hal yang kekanak-kanakan. Mungkin dia pergi liburan dengan suaminya."

An Jing mencibirkan bibirnya dan tidak bertanya-tanya lagi.

Hu Shan menunjuk ke seberang sekolah dan berkata, "Ada tempat makan yang baru buka, mau pergi ke sana?"

Aku melihat ke arah tangan Hu Shan, itu adalah cafe yang terlihat nyaman.

"Lalu tunggu apa lagi? Ayo ke sana."

"Ayo!"

…

Kami duduk di dalam cafe lebih dari 3 jam, An Jing dan Hu Shan menceritakan tentang apa saja yang terjadi selama aku tidak ada di sekolah sedangkan aku dan Liu Qiqi mendengarkan dengan tenang.

Saat pukul 5 sore ,Hu Shan menyarankan untuk pergi makan malam bersama. Kami memilih restoran yang ada di dekat cafe. Kami memesan banyak makanan dan bir.

"Sixi, untuk menyambut kembalinya kamu ke sekolah, kamu harus minum bir." kata An Jing sambil menuangkan bir ke gelasku.

Aku tertawa dan berkata, "Baiklah, aku minum."

"Kamu harus minum yang banyak." tambah An Jing.

Aku mengangkat tanganku dan membuat gerakan 'Oke', sudah lama kami tidak berkumpul jadi tidak ada salahnya jika aku minum bir.

Kami makan dan minum bir sambil berbincang-bincang. Suasananya benar-benar sangat menyenangkan.

Satu demi 1 botol bir mulai habis tapi An Jing masih ingin minum bir. Akhirnya Liu Qiqi menghentikannya dan berkata, "Hari ini begitu menyenangkan tapi kalian sebaiknya berhenti minum jangan serakah minum bir."

"Hei bukankah kamu terlalu kaku? Karena sedang senang maka kita harus minum bir."

An Jing masih ingin minum bir lagi tapi karena kami sudah minum beberapa botol jadi kami memutuskan tidak minum lagi.

Kami sudah minum cukup banyak, jika masih minum bir lagi maka kami akan mabuk.

Saat keluar dari rumah makan, kami semua berjalan dengan sedikit sempoyongan.

Untung saja sekolah dekat dari rumah makan ini jadi setelah mengantarkan mereka kembali ke asrama, aku pulang dengan taksi.

Taksi itu berjalan dengan kecepatan yang konstan, aku melihat ke arah lampu-lampu yang ada di luar jendela dan perasaanku terasa sangat tenang.

Setelah menghitung aku sudah minum 4 botol bir, aku juga sempat ke kamar mandi untuk muntah sebanyak 2 kali. Aku masih cukup sadar hanya hanya kepalaku terasa pusing.

Taksi berhenti di depan pintu gerbang vila. Setelah membayar uang taksi dan saat akan turun, tiba-tiba ada yang menahan pergelangan tanganku.

Aku menoleh dengan ragu-ragu dan melihat ada seorang anak perempuan duduk di sebelahku, dia terlihat seperti berumur 15 atau 16 tahun. Dia menggunakan terusan, di tangan dan wajahnya penuh dengan luka memar.

Anak perempuan itu yang memegang pergelangan tanganku.

Tangannya terasa sangat dingin.

Walaupun aku pusing tapi aku tahu bahwa anak perempuan itu bukan manusia, dia adalah hantu.

Dia melihat ke arahku sambil menangis.

"Kamu…"

"Kak, tolong selamatkan temanku."

Aku merasa ragu-ragu saat itu.

"Menyelamatkan temanmu?"

"Iya, dia…"

"Nona, nona akan turun atau tidak?" potong supir taksi itu dengan tidak sabar sambil melihat ke arahku.

Anak perempuan itu terlihat takut dan dalam sekejap menghilang.

Aku turun dari taksi dan mendengar supir taksi itu memakiku dengan kata-kata 'Orang gila' kemudian aku menutup pintu taksi dan taksi itu pergi.

Aku melihat ke sekelilingku tapi tidak melihat anak perempuan tadi. Aku berjalan masuk melewati halaman dan sampai di depan pintu.

Saat aku akan menekan bel pintu, tiba-tiba anak perempuan itu muncul di belakangku dan berkata, "Kak, kakak harus menyelamatkan temanku. Dia dalam bahaya."