Chapter 363 of 406
Chapter 363 - Kelak Tidak Boleh Minum Alkohol Lagi
4 min read1,093 words
Aku berbalik badan dan melihat anak perempuan itu berdiri di belakangku. Dia sedang melihatku dengan wajah memelas.
"Kenapa aku harus membantumu?"
"Aku mohon, temanku dalam bahaya dan bisa meninggal. Aku mohon bantu temanku."
Air mata mengalir keluar membasahi pipinya.
Saat aku ingin bertanya dimana temannya berada tiba-tiba pintu terbuka.
"Kamu masih tahu untuk pulang?" terdengar suara Yang Qin yang dingin dari belakangku dan di saat yang sama anak perempuan itu menghilang.
Anak perempuan itu pasti takut kepada Yang Qin.
Aku menoleh dan melihat Yang Qin.
Dia sedang berdiri di depan pintu, sebelah tangannya memegang pintu dan sedang menatapku dengan tatapan dingin.
"Kamu masih ingat apa yang aku katakan?" tanya Yang Qin dengan dingin.
Aku menghela nafas kemudian berjalan masuk melalui tubuhnya.
Yang Qin menutup pintu dan mengejarku.
"Lihat sudah jam berapa sekarang." kata Yang Qin sambil menunjuk ke arah jam dinding.
Saat itu tepat pukul 12 malam.
Yang Qin mengerutkan alisnya kemudian tiba-tiba mendekat ke arahku dan berkata, "Kamu minum alkohol?"
"Hm, sedikit."
Aku tersenyum canggung ke arah Yang Qin dan dia menatapku dengan wajah serius.
"Aku sudah bilang, kamu harus sampai di vila paling lambat pukul 8 malam."
Aku menganggukkan kepalaku. Awalnya aku masih ingat perkataan Yang Qin tapi setelah minum bir aku lupa.
"Aku berkumpul dengan teman-temanku dan merasa sangat senang hingga lupa waktu, kamu jangan tidak perlu terlalu sensitif karena hal sepele."
Aku menarik ujung baju Yang Qin. Dia membelalakkan matanya melihat ke arahku dan bertanya seolah tidak percaya dengan yang dia dengar, "Aku? Aku terlalu sensitif karena hal sepele?"
"Iya, selain itu kamu juga bawel."
Setelah mengatakannya seketika aku langsung menyesal. Saat melihat wajah Yang Qin yang semakin suram aku dengan cepat berkata, "Aku hanya bercanda, kamu tidak perlu begitu serius."
"Kamu sudah merasa bersalah sekarang?" tanya Yang Qin.
Aku tertawa kemudian berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa dan berkata, "Sudah malam, aku mau naik ke atas dan tidur."
Aku berjalan ke arah tangga dengan sempoyongan kemudian Yang Qin mengikutiku dan memegang tanganku takut aku akan terjatuh.
"Aku belum bilang kamu boleh tidur, kamu sudah ingin tidur?" tanya Yang Qin, kemudian dia menarikku dan menggendongku menaiki tangga dan masuk ke kamar tidur.
Aku memeluk leher Yang Qin dan meletakkan kepalaku di pundaknya. Dia melihat ke arahku kemudian menggerutu, "Seluruh tubuhmu bau alkohol, kelak kamu tidak boleh minum alkohol lagi."
"Hari ini aku sangat senang."
"Bukankah hanya bertemu dengan temanmu?"
"Karena bertemu dengan mereka aku senang. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan mereka jadi aku sangat senang saat berkumpul dengan mereka lagi."
"Dasar berisik." gumam Yang Qin sambil mengerutkan alisnya dan wajahnya terlihat tidak sabar.
Aku menutup mulutku dan Yang Qin masuk ke dalam kamar dan melemparku ke atas ranjang, perutku terasa sangat mual hingga tidak bisa menahan diri untuk muntah.
Aku memegang perutku yang terasa sakit dan perlahan-lahan aku bangkit duduk.
Setelah memuntahkah semua isi perutku, aku merasa lebih sadar kemudian aku melihat Yang Qin yang berdiri di depan ranjang dengan wajah yang sangat suram.
Yang Qin dengan tidak berdaya berkata, "Ji Sixi! Kamu benar-benar keterlaluan."
Aku kemudian tertawa canggung dan memegang belakang kepalaku karena aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Saat melihat Yang Qin hanya berdiri, aku cepat-cepat turun dari ranjang dan mulai melepaskan seprai.
"Kamu tidak perlu mengurusnya, aku yang akan mengganti seprainya."
Aku mengatakan itu sambil melepaskan seprai dari ranjang.
Yang Qin menghampiriku kemudian dia mengambil seprai dari tanganku lalu melemparnya ke samping, setelah itu dia mendorong pundakku perlahan hingga aku terduduk di atas sofa. Setelah itu dengan wajah serius berkata, "Duduk di sini, jangan bergerak."
"Ehm…"
"Jangan berisik."
"..."
Aku menutup mulutku kemudian Yang Qin memalingkan pandangannya dariku dan pergi mengambil seprai yang baru setelah itu dia mengganti ranjang dengan seprai yang baru dan memasukkan seprai kotor ke dalam mesin cuci yang ada di kamar mandi.
Pintu kamar mandi terbuka dan aku melihat Yang Qin yang sedang memasukkan air dan sabun detergen ke mesin cuci dengan canggung, perlahan-lahan rasa kantuk mulai mendatangiku.
Tanpa sadar aku tertidur dan saat terbangun, sinar matahari menusuk mataku dan aku sudah berada di atas ranjang dengan selimut menutupi tubuhku dengan rapat.
Kemarin malam aku pasti tidur dengan terus bergerak karena aku melihat sebuah bantal dan selimut yang tertata rapi di atas sofa. Sepertinya kemarin malam Yang Qin tidur di sofa karena aku.
Aku membuka selimutku kemudian aku bangkit duduk dan merasakan kepalaku sakit dan perutku terasa tidak nyaman.
Aku pergi ke kamar mandi untuk mandi dan menghilangkan aroma alkohol sampai bersih.
Setelah itu aku menggunakan kaos yang longgar serta celana jeans kemudian turun ke lantai 1.
Tidak ada siapapun di ruang tamu dan di balkon ada seprai yang berwarna putih sedang dijemur dan tertiup angin, itu adalah seprai yang kemarin kotor karena muntahanku.
"Jika sudah bangun kemarilah untuk makan." aku mendengar suara dingin dari arah meja makan.
Aku melihat ke arah suara itu dan melihat Yang Qin sedang berdiri di depan pintu ruang makan. Dia menggunakan baju hitam dan menggunakan celemek dan membawa segelas susu.
Dia melihat ke arahku dan tanpa berkata apa-apa lagi ia berbalik badan kemudian duduk dan meletakkan susu yang dia bawa di depan Yang Qinxue yang ada di seberangnya.
"Terima kasih papa." kata Yang Qinxue sambil tersenyum. Kemudian dia melihat ke arahku lalu dia berkata, "Mama, kata papa mulai hari ini mama sama seperti aku yang akan pergi ke sekolah setiap hari."
Aku memegang kepalaku dengan canggung.
Yang Qin kemudian dengan dingin berkata, "Sedang apa di situ? Cepat kemari."
"Oh."
"Oh, oh, cepat kemari untuk makan."
"Oh."
"..."
Yang Qin yang menyiapkan sarapan. Dia menyiapkan roti, telur mata sapi dan susu.
Yang Qinxue dengan cepat menghabiskan sarapannya kemudian dia meminum susunya hingga habis lalu berkata kepada Yang Qin, "Papa, aku hampir terlambat."
"Tunggu mama selesai makan, kita berangkat bersama."
Saat mendengar itu Yang Qinxue melihat ke arahku lalu dengan hangat berkata, "Mama tidak perlu terburu-buru, kami akan menunggu mama."
Aku menganggukkan kepalaku, tapi karena perutku tidak terasa nyaman aku hanya makan beberapa suap roti dan seteguk susu kemudian bangkit berdiri dan berkata, "Ayo berangkat!"
"Habiskan susumu." kata Yang Qin masih tetap duduk.
"Aku tidak mau minum lagi."
"Habiskan!" kata Yang Qin sambil melihat ke arahku dengan tatapan tidak senang.
Aku merasa suasana hatinya sedang tidak baik, apa karena aku pulang malam dan seluruh tubuhku bau alkohol?
Aku berdeham kemudian menghabiskan susuku, setelah itu Yang Qin baru bangkit berdiri dan melepaskan celemeknya lalu melambaikan tangannya ke arah Yang Qinxue.
Yang Qinxue melompat turun dari kursi lalu dia berlari ke depan Yang Qin. Dia tertawa dan menggandeng tangan Yang Qin. Saat itu dia memiringkan kepalanya dan dengan wajah bingung bertanya, "Pa, kenapa tangan papa dingin sekali?"