Chapter 364 of 406
Chapter 364 - Tidak Mau Mengalah
5 min read1,130 words
Wajah Yang Qin yang sebelumnya dingin langsung tersenyum saat melihat ke arah Yang Qinxue dan menjawab, "Itu karena tubuh papa lemah karena itu tubuh papa dingin."
"Lalu kenapa tubuh mama bisa terasa lebih panas?"
Yang Qin dengan sabar mengusap kepala Yang Qinxue kemudian dia tersenyum sambil menjelaskan, "Itu karena tubuh mama sehat."
"Aku mau seperti mama yang sehat."
"Kalau begitu kamu harus makan yang banyak agar tubuhmu juga sehat."
Yang Qinxue mendengarkan penjelasan Yang Qin dengan serius lalu dia menganggukkan kepalanya dan berkata, "Mulai sekarang setiap hari aku akan makan yang banyak."
"Anak pintar!"
Lalu Yang Qinxue tersenyum lebar ke arah Yang Qin, saat melihat hubungan Yang Qin dan Yang Qinxue membuat perasaanku terasa sangat hangat tapi sejak tadi aku merasa ada yang aneh dengan Yang Qin, sepertinya dia sedang marah kepadaku.
Saat aku membuka mulutku dan ingin mengatakan sesuatu Yang Qin menggandeng Yang Qinxue keluar dari ruang makan. Akhirnya aku mengikuti mereka dan berjalan di belakang mereka.
Saat perjalanan menuju ke sekolah, aku duduk di kursi belakang seorang diri, sedangkan Yang Qinxue duduk di depan dan aku sama sekali tidak bicara apapun kepada Yang Qin.
Setelah mengantarkan Yang Qinxue ke dalam sekolah aku duduk di kursi depan.
Yang Qin melambaikan tangannya ke arah Yang Qinxue lalu berkata, "Nanti siang papa jemput."
"Dada papa, dada mama."
Aku juga membuka kaca jendela lalu melambaikan tanganku ke arah Yang Qinxue kemudian setelah dia melambaikan tanganya ke arah kami dengan antusias, dia berjalan bersama gurunya.
Yang Qin tidak terburu-buru masuk ke dalam mobil, setelah Yang Qinxue tidak terlihat lagi dia baru kembali masuk ke dalam mobil.
Sekarang aku semakin yakin Yang Qin benar-benar sedang marah kepadaku.
Karena sejak mengantarkan Yang Qinxue suasana di dalam mobil benar-benar suram, Yang Qin sama sekali tidak melihat ke arahku ataupun berbicara kepadaku.
Aku melihat ke arahnya dan ragu-ragu apakah aku harus membujuknya agar tidak marah lagi.
Aku rasa dia benar-benar marah karena aku pulang malam dengan keadaan seluruh tubuhku bau alkohol.
Saat berada di lampu merah, aku akhirnya mengulurkan tanganku dan menarik ujung bajunya.
Yang Qin akhirnya menoleh ke arahku dan dia melihatku dengan tatapan dingin.
"Ehm… Kamu sedang tidak senang ya?"
Yang Qin tidak menjawabku kemudian aku melanjutkan, "Karena aku kemarin pulang malam jadi kamu tidak senang? Aku janji tidak akan mengulanginya, aku juga tidak akan minum alkohol lagi. Aku janji!"
"Kamu berisik."
"Kalau begitu aku tidak berisik lagi tapi kamu senyum 1 kali saja, ya?"
Aku berusaha membujuk Yang Qin dan menunggunya untuk tersenyum tapi dia hanya melihat ke arahku dengan wajah dingin kemudian kembali melihat ke depan.
Reaksi Yang Qin membuatku merasa serba salah, apa selain pulang malam dan mabuk aku melakukan hal lain lagi?
Apa karena aku muntah di atas seprai? Tapi karena minum alkohol terlalu banyak hal itu tidak bisa dihindari dan aku yakin dia tidak mungkin marah kepadaku hanya karena masalah kecil itu.
Lampu merah berubah menjadi hijau dan mobil kembali melaju.
Aku melihat ke arah Yang Qin dengan perasaan tidak tenang dan wajah Yang Qin masih terlihat dingin. Kemudian aku kembali bertanya dengan suara pelan, "Kamu marah padaku?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kamu terlihat tidak senang?"
"Tidak."
"..."
Yang Qin menjawab dengan acuh tak acuh.
Aku bukan orang bodoh, bagaimana mungkin aku bisa membedakan suasana hatinya?!
Kemudian kami tiba di depan gerbang sekolah dan Yang Qin menghentikan mobilnya di samping jalan.
Aku sama sekali tidak berniat untuk langsung turun dari mobil, aku menoleh dan bertanya, "Kamu sedang marah kepadaku kan?"
Yang Qin menurunkan kaca jendelanya kemudian melihat ke arah luar jendela sambil bergumam, "Tidak."
"Lalu kenapa kamu menekuk wajahmu?"
"Memangnya iya?" dia menoleh melihat ke arahku.
"Tentu saja, sejak pagi kamu sudah menekuk wajahmu. Sebenarnya apa yang aku lakukan kemarin malam sampai kamu jadi seperti ini?"
Kemudian dia kembali menjawab dengan acuh, "Tidak ada."
"Tuan Yang Qin, tolong lebih serius. Aku sedang berusaha untuk meluruskan hubungan kita sebagai suami istri agar tetap harmonis, apa kamu bisa berhenti bersikap acuh tak acuh kepadaku?"
Aku melihat ke arah Yang Qin dengan serius kemudian dia malah tersenyum tidak berdaya, lalu mengulurkan tangannya dan mengusap kepalaku sambil berkata, "Tidak perlu bicara yang tidak-tidak, cepat masuk sana."
"Aku tidak akan turun sebelum masalah ini jelas."
"Sekarang aku sudah tidak bawel dan tidak sensitif lagi."
"..."
Seketika aku teringat apa yang aku katakan padanya tadi malam!
Aku akhirnya tahu Yang Qin tidak senang karena perkataanku kemarin malam. Cepat-cepat aku menjelaskan, "Kamu jangan marah kepadaku ya, kemarin aku mengatakan itu karena mabuk."
"Bukankah saat mabuk isi hati mereka terungkapkan?"
"... Aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu, aku hanya bicara sembarangan."
Aku dengan cepat berusaha menjelaskan karena takut Yang Qin salah paham. Aku sudah mengatakan bahwa aku bercanda jadi aku tidak menyangka dia menganggap serius perkataanku dan marah.
Yang Qin tidak mengatakan apapun dan hanya melihat ke arahku, aku dengan cepat berkata lagi, "Aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu, aku mengatakan itu hanya karena mabuk."
"Yang benar?"
Aku menganggukkan kepalaku dan melanjutkan perkataanku, "Toleransi alkoholku tidak terlalu bagus jadi setelah mabuk aku suka bicara sembarangan, kamu jangan menganggapnya serius. Maafkan aku kali ini ya?"
Aku memegang tangannya kemudian menggoyang-goyangkannya sambil membuat wajah memohon.
Yang Qin mengangkat alisnya lalu berkata, "Aku akan mempertimbangkan untuk memaafkanmu atau tidak."
"Mempertimbangkan? Kamu masih ingin mempertimbangkan setelah aku meminta maaf dengan tulus?"
"Kamu minta maaf? Kenapa aku tidak ingat?"
"..."
Yang Qin benar-benar keterlaluan.
Aku melepaskan tangannya dan mulai merasa kesal. Jelas-jelas hanya masalah sepele tapi dia ingin aku meminta maaf berkali-kali kepadanya?!
Itu hanya bercanda!
Yang Qin melihat ke arahku dan saat melihat aku tidak ada niatan untuk meminta maaf dia membuka sabuk pengamanku dan dengan dingin berkata, "Kalau tidak mau minta maaf turun dari mobill."
"Siapa bilang aku tidak mau minta maaf, aku sedang mempersiapkan diri."
Raut wajah Yang Qin terlihat sedikit lebih hangat kemudian dia berkata, "Baiklah, aku akan memberimu waktu 1 menit."
Aku memalingkan wajahku kemudian berdeham. Setelah itu aku membuka pintu mobil dan menurunkan 1 kakiku lalu aku tersenyum lebar ke arah Yang Qin.
"Tuan Yang Qin tercinta, aku menyadari anda tidak hanya sensitif dan bawel tapi juga picik. Kamu laki-laki dewasa tapi masih ingin aku minta maaf lagi kepadamu berulang kali?! Aku tidak mau!"
Setelah selesai mengatakannya aku dengan cepat aku turun dari mobil lalu menutup pintu dan menjulurkan lidahku ke arah Yang Qin.
Awalnya aku mengira dia akan kesal tapi dia malah tertegun dan terlihat tersenyum kecil, kemudian dia berkata, "Ji SIxi, kamu tidak hanya membuat kesalahan tapi berani melawan, tidak apa-apa malam ini aku akan 'Mengajarimu'."
Setelah mengatakannya dia mengangkat tangannya kemudian menunjuk jam tangannya seolah mengingatkanku untuk masuk kelas.
Seketika aku merasa tidak tenang, apa aku terlalu berlebihan? Malam ini dia tidak akan benar-benar 'Mengajariku' kan?
Yang Qin menganggap serius perkataanku saat mabuk dan dia ingin aku minta maaf, tentu aku tidak bisa begitu saja menurut kepadanya. Jika aku mengalah, bisa-bisa dia menjadi besar kepala...