Chapter 367 of 406
Chapter 367 - Aku Berjanji Akan Membuatmu Merasa Nyaman
5 min read1,133 words
Aku ikut merasa sedih dan ingin menghibur Lu Xiaodan tapi aku tidak tahu apa yang harus aku katakan.
Lu Xiaodan terdiam kemudian tiba-tiba dia tersenyum sambil melihatku lalu dengan lembut berkata, "Ini adalah takdirku, tapi setidaknya Wen Yu baik-baik saja."
"Kalian sangat dekat, ya."
"Tentu saja, kami tumbuh bersama sejak kecil. Dia adalah teman terbaikku." saat mengatakan itu kedua mata Lu Xiaodan berbinar.
Saat itu aku tiba-tiba teringat saat pertama kali Lu Xiaodan menemuiku di dalam taksi, dia memegang tanganku dan meminta bantuan kepadaku.
Saat itu dia pasti merasa sangat panik sedangkan karena aku mabuk, aku jadi tidak terlalu menghiraukan permohonannya.
Setelah berpikir sekarang ada beberapa hal yang tidak boleh aku acuhkan, terlebih lagi dia sudah datang untuk mencariku...
"Ayo kita pergi! Petugas Chen sedang menunggu kita di luar." kataku sambil menepuk pundak Lu Xiaodan yang dingin.
Lu Xiaodan tersenyum dan menjawab, "Hm."
…
Setelah tiba di kantor polisi, Chen Luoyang sendiri yang mencatat dataku dan saat dia bertanya bagaimana aku bisa mengetahui kasus ini… aku hanya bisa tertegun.
Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya tapi jika aku mengatakan yang sebenarnya, Chen Luoyang juga tidak akan bisa mencatatnya karena hal seperti hantu tidak bisa dijelaskan secara ilmiah.
Aku berdeham kemudian bertanya kepadanya, "Apa bisa tidak menanyakan hal ini?"
"Jawab saja."
"Anggap saja aku menyaksikannya."
"..."
Chen Luoyang sepertinya mengetahui sesuatu sehingga dia tidak bertanya lagi dan mendataku sebagai saksi.
Kali ini aku mengatakan penampilan hingga kondisi keluarga pembunuh itu dengan sangat detail, walaupun Chen Luoyang terlihat seperti percaya tidak percaya tapi dia akhirnya memutuskan untuk mempercayai perkataanku kemudian memerintahkan para petugas polisi untuk bersiap pergi ke rumah pembunuh itu.
Setelah Chen Luoyang pergi, orang tua Lu Xiaodan dengan panik masuk ke kantor polisi.
Chen Luoyang meminta kepada seorang petugas polisi untuk membawa orang tua Lu Xiaodan melihat mayat Lu Xioadan di kamar mayat. Orang tua Lu Xiaodan menangis begitu juga dengan Lu Xiaodan yang melihat kedua orang tuanya menangis karena dirinya...
Semua kejadian ini membuatku teringat dengan tante Ji Li. Aku teringat saat tante Ji Li meninggal, aku sama seperti orang tua Lu Xiaodan yang menangis hingga dadaku terasa sesak.
Karena untuk melakukan otopsi diperlukan persetujuan keluarga sehingga tim forensik menemui orang tua Lu Xiaodan dan meminta izin.
Kemudian di saat yang sama, Chen Luoyang membawa beberapa petugas polisi untuk menangkap pembunuh itu dan aku merasa otopsi tidak benar-benar diperlukan karena setelah pembunuh itu tertangkap maka kasus ini akan ditutup.
Orang tua Lu Xiaodan terlihat ragu-ragu kemudian saat mereka mendengar bahwa pihak kepolisian sedang pergi untuk menangkap pembunuh putri mereka akhirnya mereka berdua menolak mayat putri mereka diotopsi sehingga tim forensik juga tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku tidak terburu-buru meninggalkan kantor polisi karena ingin melihat secara langsung orang yang membuat 2 orang anak perempuan hingga menjadi seperti ini karena itu aku terus menunggu di kantor polisi.
Orang tua Lu Xiaodan juga menunggu di kantor polisi, mereka duduk di sebelahku. Ibu dari Lu Xiaodan masih menangis dan perasaannya masih belum stabil.
Lu Xiaodan menemani orang tuanya dengan tenang, dia tidak mengatakan apapun dan hanya melihat ke arah orang tuanya sambil menangis.
Chen Luoyang dan petugas polisi yang lain pergi cukup lama. Setelah lebih dari 1 jam menunggu, aku melihat Chen Luoyang kembali dengan wajah kesal.
"Sial, dia kabur!"
Aku bangkit berdiri kemudian bertanya, "Apa yang terjadi?"
"Sepertinya dia menyadari bahwa ada yang menyelamatkan Lu Xiaodan dan Wen Yu sehingga dia kabur."
"Lalu bagaimana? Membuat poster pencarian?"
Chen Luoyang melihat ke arahku kemudian dengan tidak sabar dan berkata, "Mengajukan pembuatan poster pencarian memerlukan waktu."
"Sketsa! Iya sketsa wajah, kita bisa membuat sketsa wajah kemudian
"Itu juga memerlukan waktu."
"Memangnya jika memerlukan waktu kamu tidak akan melakukannya? Kamu mau membiarkan pembunuh itu berkeliaran bebas di luar sana?" tanyaku kepada Chen Luoyang, kemudian dia terdiam.
Setelah itu dia mendatangkan seorang pelukis potret pelaku kriminal. Dengan bantuan Lu Xiaodan aku menjelaskan wajah pembunuh itu kepada pelukis itu satu per satu dan akhirnya selesai.
Setelah melihat hasilnya Lu Xiaodan menujuk beberapa bagian yang tidak sesuai kemudian aku menyampaikannya kepada pelukis itu, setelah memperbaikinya beberapa kali akhirnya sketsa wajah pembunuh itu selesai!
"Ini orangnya!" kata Lu Xiaodan dengan yakin.
Aku menganggukkan kepala lalu berkata kepada pelukis itu dan Chen Luoyang, "Dia orangnya."
Chen Luoyang mengambil hasil sketsa itu kemudian memperhatikannya setelah itu dia melihat ke arah orang tua Lu Xiaodan yang masih duduk di atas sofa kantor polisi dan berkata, "Tuan Lu, nyonya Lu, kalian sebaiknya pulang dulu. Jika pembunuh itu sudah tertangkap saya pasti akan menghubungi kalian."
Orang tua Lu Xiaodan bangkit berdiri kemudian ibu dari Lu Xiaodan menjabat tangan Chen Luoyang dan berkata, "Tolong tangkap pembunuh putriku."
"Tenang saja, kami akan berusaha yang terbaik."
…
Setelah seharian mengurus kasus ini, tidak terasa hari sudah malam.
Awalnya aku ingin kembali ke sekolah tapi akhirnya Chen Luoyang memaksaku untuk makan malam dengannya dan petugas polisi yang lain.
Awalnya aku mengira makan malam tidak akan menghabiskan banyak waktu tapi akhirnya setelah aku kembali ke sekolah pintu asrama sudah di kunci dan lampu seluruh kamar asrama sudah mati…
Hari ini aku berencana untuk tinggal di kamar asrama karena tidak ingin pulang ke vila, tapi aku tidak bisa masuk ke dalam asrama… jadi sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain pulang ke vila.
Saat teringat raut wajah Yang Qin sebelum dia pergi, tiba-tiba aku merasa gelisah.
Aku naik taksi dan tiba di vila. Saat aku merogoh kunci di dalam kantong celanaku, aku mendongak ke atas.
Lampu vila masih menyala itu berarti Yang Qin belum tidur, bisa jadi dia sedang menungguku untuk 'Memberiku pelajaran'... Saat memikirkan hal ini bagaimana mungkin aku memiliki keberanian untuk masuk?
Aku menunggu di dekat vila untuk beberapa saat, setelah lampu vila mati aku baru menghela nafas lega.
Setelah beberapa saat, diam-diam aku berjalan masuk ke dalam vila menggunakan kunci yang aku bawa.
Aku melepaskan sepatuku kemudian masuk ke ruang tamu dengan mengendap-endap. Aku tidak berani naik ke lantai 2 jadi aku pergi ke kamar tamu di lantai 1.
Setelah masuk, aku menutup pintu dengan pelan kemudian berbaring di atas ranjang, kemudian aku baru merasa tenang.
Sepertinya Yang Qin tidak sehebat itu. Buktinya ia tidak tahu aku pulang diam-diam.
Kemudian tiba-tiba terdengar suara dingin.
"Kamu masih ingat untuk pulang?"
Siapa lagi jika bukan Yang Qin?
Seketika aku langsung bangkit duduk.
Di depanku ada bayangan tinggi. Cahaya bulan yang masuk dari jendela menyinari wajahnya...
Dia memang Yang Qin!
"Kamu tahu aku pulang?" tanyaku terkejut.
Yang Qin tertawa kemudian dia mendekatkan tubuhku ke arahku dan dengan lembut mendorongku berbaring lagi di atas ranjang, lalu dengan suara bergurau berkata, "Kamu mengenalku kan, aku tahu segala hal."
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
"Menurutmu?"
"Ini sudah malam, kamu istirahat di lantai 2 saja."
Yang Qin tertawa kecil lalu berkata, "Bagaimana bisa aku mengacuhkan istriku dan tidur seorang diri?"
"Aku… aku lelah, aku sudah sibuk seharian…"
"Aku berjanji akan membuatmu merasa nyaman dan tertidur hingga siang."