Skip to content

Chapter 377 of 406

Chapter 377 - Dia Tidak Mungkin Berbohong Kepadaku

5 min read1,137 words

Setelah melihat ke arah cermin beberapa saat aku akhirnya merasa puas karena menurutku aku terlihat beberapa tahun lebih muda.

Tapi aku tidak tahu bagaimana reaksi Yang Qin saat dia melihat model rambut baruku.

Aku tidak sabar untuk mengetahui ekspresinya.

Selama ini aku selalu membiarkan rambutku panjang karena sudah terbiasa. Biasanya aku akan mengikatnya menjadi 1 atau menyanggul rambutku tapi karena rambutku sekarang sudah pendek aku tidak perlu melakukan itu lagi.

Aku melihat ke arah Liu Qiqi dan Wang Xiaoyan lalu bertanya, "Aku terlihat cantik tidak?"

Mereka berdua menganggukkan kepala dan menjawab secara bersamaan, "Cantik, sangat cocok denganmu."

Aku tertawa dan wajahku memerah.

Kemudian aku mengeluarkan handphoneku kemudian mengambil foto dan mengirimkannya ke Yang Qin.

Setelah menunggu beberapa saat, Yang Qin masih tidak membalas pesanku. Mungkin karena dia sedang sibuk sehingga dia tidak tahu ada pesan dariku.

Aku tidak terlalu memikirkannya dan setelah Liu Qiqi selesai dengan perawatan rambutnya, kami bertiga keluar dari salon dan kembali ke sekolah.

Masih ada 1 jam lagi sebelum kelasku dimulai sehingga aku berencana untuk kembali ke kamar asrama untuk istirahat sebentar.

Saat memikirkan itu aku melihat ada sosok tidak asing yang berdiri di depan gerbang sekolahku, orang itu memunggungiku. Dari belakang orang itu terlihat seperti Yang Qin, di sebelahnya ada seorang perempuan. Tinggi perempuan itu sama dengan bahu laki-laki itu dan saat itu perempuan itu sedang mengangkat kepalanya melihat ke arah laki-laki itu.

Saat perempuan itu sedang berbicara kepada laki-laki itu, terlihat senyum manis di wajahnya.

Aku ingin melihat wajah laki-laki itu dengan jelas tapi tiba-tiba Liu Qiqi dan Wang Xiaoyan menghalangi pandanganku.

"Aku tiba-tiba ingin makan es krim, di sana ada supermarket ayo beli di sana." kata Liu Qiqi.

Kemudian Wang Xiaoyan menganggukkan kelapanya dan berkata, "Ayo, aku juga tiba-tiba ingin minum minuman dingin."

Mereka berdua menarikku dan dengan cepat kami menjauh dari sekolah.

Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Saat aku akan menoleh, Liu Qiqi menahan wajahku dan tersenyum sambil berkata, "Sixi, model rambut barumu sangat manis. Sangat cocok denganmu."

"Oh, terima kasih."

Aku ingin melepaskan tangan Liu Qiqi karena ingin melihat apakah laki-laki di depan pintu gerbang sekolah itu Yang Qin atau bukan tapi sebelum aku berhasil menoleh, kali ini Wang Xiaoyan yang menahan wajahku.

"Aku juga merasa model rambutmu sangat cantik, benar-benar sangat cantik."

"..."

Mereka berdua benar-benar bersikap aneh, aku merasa mereka seperti sengaja menahanku untuk melihat ke belakang.

"Kalian sedang apa?" tanyaku kepada mereka berdua lalu mereka tersenyum ke arahku.

"Kami hanya merasa kamu lebih cantik dengan model rambut pendek."

"Iya! Sangat cantik." tambah Wang Xiaoyan dengan tawa canggung.

Aku melihat ke arah mereka dengan tatapan curiga tapi mereka berdua terus menggandeng tanganku dan menarikku ke arah supermarket.

Setiap kali aku ingin menolehkan kepalaku, mereka berdua pasti akan menahanku. Aku yakin mereka berdua tidak ingin aku melihat 2 orang yang ada di gerbang sekolah dengan jelas.

Kemudian aku mengingat kembali sosok laki-laki yang ada di depan gerbang sekolahku benar-benar mirip dengan Yang Qin.

Apakah itu benar-benar Yang Qin?

Saat tiba di supermarket mereka berdua menarikku masuk dan setelah beberapa saat berkeliling di dalam akhirnya masing-masing dari kami membeli 1 es krim.

Jelas-jelas lemari es yang berisi es krim ada di dekat pintu masuk supermarket sehingga bisa langsung membeli es krim tapi mereka berdua sengaja membawaku berkeliling terlebih dahulu untuk waktu yang cukup lama.

Aneh! Ini sangat aneh!

Saat keluar dari supermarket, aku melihat ke arah gerbang sekolah dan kedua orang itu sudah tidak ada.

Aku menghela nafas melihat ke arah Liu Qiqi dan Wang Xiaoyan. Mereka berdua berpura-pura tidak tahu apa-apa dan terus makan es krim di tangan mereka.

"Kamu yakin tidak mau?" tanya Liu Qiqi.

Aku memalingkan pandanganku darinya lalu dia berkata lagi, "Es krim ini sangat enak loh."

"Kalau begitu kalian makan pelan-pelan."

Kejadian ini benar-benar menganjal perasaanku sehingga selama jam pelajaran terakhir aku tidak dapat fokus dan kelas berakhir dengan sangat cepat.

Setelah selesai kelas, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.

Aku membereskan bukuku kemudian keluar dari kelas.

Saat tiba di pitnu gerbang sekolah, aku melihat mobil Yang Qin yang berhenti di samping jalan. Dia menurunkan kaca jendelanya lalu melambaikan tangannya ke arahku.

Aku menghampirinya dan setelah memastikan tidak ada tahi lalat di telinga kanannya, aku baru masuk ke dalam mobil.

Yang Qin melihat ke arahku lalu bertanya, "Ada yang terjadi dengan rambutmu?"

"Aku memotongnya."

"Kenapa dipotong?"

"Tidak cocok?" tanyaku kepada Yang Qin.

Yang Qin melihat ke arahku tapi dia tidak mengatakan apapun.

Kemudian Yang Qin mulai menyetir.

Aku tidak bisa menahan diri dan bertanya, "Aku tidak cocok dengan rambut pendek ya?"

"Yang penting kamu suka maka tidak masalah."

"..."

Kemudian tiba-tiba Yang Qin berkata lagi, "Sebaiknya kamu biarkan rambutmu tumbuh, aku suka jika rambutmu panjang."

Yang Qin mengatakannya dengan santai tapi terdengar tegas seolah tidak bisa dibantah..

Aku langsung panik dan bertanya, "Kamu tidak suka aku rambut pendek?"

"Aku lebih suka kamu dengan rambut panjang."

"Kalau begitu aku akan pergi beli rambut palsu."

Yang Qin tertawa lalu dia menoleh ke arahku dan berkata, "Tidak perlu, rambutmu nanti juga akan tumbuh. Kelak kamu tidak boleh potong pendek lagi."

"Oh."

Jika sejak awal aku tahu Yang Qin tidak suka aku berambut pendek maka aku pasti tidak akan memotongnya apapun yang terjadi, sekarang menyesal pun sudah terlambat.

Awalnya aku ingin melihat Yang Qin terkejut tapi saat melihatku, reaksinya terlalu datar. Dia hanya bertanya apa yang terjadi dengan rambutku.

Saat tidak melihat ekspresi Yang Qin yang terkejut, aku merasa kecewa.

Sepanjang perjalanan, aku hanya diam tidak mengatakan apapun.

Tiba-tiba aku teringat laki-laki dan perempuan yang ada di depan gerbang sekolah lagi lalu aku melihat ke arah Yang Qin.

Dari aura dan cara berpakaiannya benar-benar terlihat seperti Yang Qin.

Aku penasaran apakah Yang Qin tadi pergi ke sekolahku. Au ingin bertanya tapi setelah ragu-ragu akhirnya aku mengurungkan niatku.

Jika dia benar-benar pergi ke sekolahku, lalu siapa perempuan yang bersamanya?

Apa dia bertemu dengan perempuan lain di belakangku?

Apa laki-laki itu bukan Yang Qin? Tapi jika bukan Yang Qin kenapa sikap Liu Qiqi dan Wang Xiaoyan terlihat aneh?

Bukankah mereka tahu bahwa laki-laki itu adalah Yang Qin dan dia sedang bersama perempuan lain sehingga mereka berdua berusaha menjauhkanku dari sana?

…

Memikirkan semua itu membuat kepalaku serasa ingin meledak.

Sebenarnya laki-laki itu Yang Qin atau bukan? Tapi jika Yang Qin ada di gerbang sekolahku pasti karena dia mengantar atau menjemputku, dia tidak mungkin bertemu dengan perempuan lain.

"Ehm… sekitar pukul 1 siang apa kamu datang ke sekolahku?" akhirnya aku membulatkan tekad untuk menanyakan hal ini kepada Yang Qin.

Yang Qin menjawab tanpa berpikir, "Tidak."

"Kamu benar-benar tidak datang ke sekolahku?"

"Kenapa? Apa aku harus ada di sekolahmu pukul 1 siang tadi?" tanya Yang Qin.

Aku tertawa canggung lalu dengan cepat melambaikan tanganku dan menjawab, "Tentu saja tidak, aku hanya bertanya."

Kemudian aku menghela nafas, jika Yang Qin mengatakan tidak maka itu berarti tidak.

Dia tidak mungkin berbohong kepadaku dan dia lebih tidak mungkin bertemu dengan perempuan lain.