Chapter 378 of 406
Chapter 378 - Mencari Kebenaran Terlebih Dahulu
4 min read1,055 words
Kemudian beberapa hari pun berlalu dan kali ini secara kebetulan aku kembali melihat sosok laki-laki yang tidak asing itu lagi, dia sedang bersama seorang perempuan.
Kali ini tidak ada Liu Qiqi maupun Qang Xiaoyan sehingga aku bisa melihat laki-laki itu dengan jelas.
Laki-laki itu menggunakan pakaian hitam dan tubuhnya tegap, aku dapat mengenali wajahnya… Yang Qin.
Tapi aku tidak mengenal perempuan itu, sepertinya dia adalah murid sekolah ini.
Perempuan itu terlihat cantik, kulitnya putih dan rambutnya panjang. Dia terlihat sedang bicara dan tertawa bersama Yang Qin.
Saat melihat Yang Qin memegang pundak perempuan itu kemudian membawanya masuk ke dalam mobil, aku langsung mengejar mereka tapi tentu saja aku tidak bisa secepat mobil.
Saat tiba di pintu gerbang mobil itu sudah menghilang.
Aku berusaha mengatur nafasku yang terengah-engah lalu aku menelpon Yang Qin tapi dia tidak mengangkatnya.
Aku mulai merasa panik.
Apa laki-laki itu benar-benar Yang Qin? Atau mungkin dia adalah laki-laki yang mirip dengan Yang Qin?
Yang Qin tidak mungkin menemui perempuan lain secara diam-diam di belakangku, tapi lebih tidak mungkin lagi jika dia melakukannya di pintu gerbang sekolahku.
Aku masih tidak mengetahui situasi sebenarnya dan itu membuat kepalaku serasa akan meledak.
Kemudian aku teringat sikap Liu Qiqi dan Wang Xiaoyan beberapa hari yang lalu. Aku langsung bergegas ke arah asrama perempuan.
Mereka pasti mengetahui sesuatu dan menyembunyikannya dariku.
Aku terus berjalan dan melangkah dengan sangat panik. Saat aku tiba di depan pintu kamar asrama dan hendak membuka pintu, aku mendengar sesuatu yang membuatku terkejut.
"Apa? Kamu melihat suami Sixi dengan perempuan lain lagi?" itu adalah suara Hu Shan.
Awalnya aku ingin langsung membuka pintu tapi saat mendengar itu aku menggertakan gigiku dan menahan diri untuk mendengar percakapan mereka dari luar.
"Kecilkan suaramu." gumam Liu Qiqi dengan kesal.
Lalu terdengar suara Hu Shan, tapi kali ini suaranya lebih kecil dari sebelumnya. Dia bertanya, "Kamu melihat Yang Qin dimana?"
"Perpustakaan."
"Apa?! Bagaimana bisa dia pergi dengan perempuan lain dan memilih sekolah Sixi untuk bertemu dengannya, bukankah…"
"Aku merasa dia keterlaluan, dia harusnya tahu bahwa Sixi sering ke perpustakaan tapi dia sama sekali tidak terlihat khawatir. Malah dia semakin sering datang menjemput perempuan itu."
"Siapa perempuan itu?"
"Mahasiswa jurusan kedokteran tahun kedua, dia cantik dan jika tidak salah namanya… Zhou Yi."
"Zhou Yi?" kata Hu Shan dengan nada terkejut, kemudian dia berkata lagi, "Bukankah Zhou Yi bukan perempuan baik-baik? Bagaimana dia bisa memikat Yang Qin? Astaga, apa Yang Qin tertipu dengan wajahnya yang terlihat polos? Jika semua mantan pacarnya dijumlahkan maka akan bisa membentuk tim basket."
"Siapa yang tahu, tapi seharusnya tidak ada masalah dalam hubungan pernikahan Yang Qin dan Sixi. Hubungan mereka terlihat begitu harmonis hingga membuat orang yang melihatnya menjadi iri."
"Aku sangat khawatir jika Sixi mengetahui masalah ini."
"Aku juga khawatir, beberapa hari yang lalu dia hampir saja melihat Yang Qin sedang bersama Zhou Yi tapi untung saja aku dan Wang Xiaoyan bertindak cepat, jika tidak maka akan terjadi masalah besar."
"..."
Suara mereka semakin lama semakin kecil tapi aku masih bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas.
Kemudian aku teringat kejadian beberapa hari yang lalu di pintu gerbang sekolah, akhirnya aku tahu dengan jelas kenapa mereka berdua menarikku pergi dari sana.
Mereka tidak ingin aku melihat Yang Qin sedang bersama dengan Zhou Yi, tapi mereka tidak tahu bahwa di dunia ini ada orang yang sangat mirip dengan Yang Qin… mungkin semua ini hanya salah paham...
Laki-laki itu pasti bukan Yang Qin, karena Yang Qin tidak mungkin menusukku dari belakang. Tidak mungkin!
Aku tidak tahu mendapat kepercayaan diri seperti itu dari mana tapi aku sangat mempercayai Yang Qin.
Aku berdiri di depan pintu cukup lama dan setelah menenangkan pikiranku, aku menarik nafas dalam kemudian membuka pintu dan masuk ke kamar asrama.
Liu Qiqi dan Hu Shan melihat ke arahku dan mereka tersenyum canggung.
"Sixi, bukankah kamu ada kelas?" tanya Hu Shan.
Aku tersenyum dan berusaha bersikap normal.
"Masih belum dimulai, aku datang ke kamar asrama untuk istirahat sebentar."
Aku langsung berjalan ke arah ranjang di seberang Liu Qiqi kemudian berbaring di atas ranjang itu.
"Sixi, raut wajahmu tidak terlihat baik." kata Hu Shan sambil berdiri di sebelah ranjangku dan melihatku.
Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh dahiku lalu dia mengerutkan alisnya dan berkata, "Kamu tidak demam, apa kamu sakit? Lihatlah wajahmu begitu pucat."
"Aku hanya sedikit lelah, setelah berbaring sebentar akan pulih lagi."
Hu Shan tidak mengatakan apa-apa kemudian Liu Qiqi menariknya dan berbisik, "Biarkan dia istirahat, jangan mengganggunya.
Kemudian dia dan Liu Qiqi pergi ke meja belajar mereka masing-masing merapikan buku mereka lalu keluar dari kamar asrama.
Saat mereka berdua baru saja pergi, handphoneku berbunyi.
Awalnya aku mengira Yang Qin yang menelponku tapi ternyata Shang Liqi.
Aku merasa cukup kecewa…
Aku menelepon Yang Qin tapi dia tidak menelponku kembali, apa dia tidak tahu aku menelponnya?
Aku bangkit duduk dan melihat ke arah handphoneku. Setelah menunggu beberapa detik akhirnya aku mengangkat teleponnya.
"Aku dengar terjadi sesuatu di almamater kampusku?"
Pertanyaan Shang Liqi membuatku tertegun.
"Almamater?"
"Iya, aku sudah lulus. Kamu sibuk melahirkan dan menjaga anakmu hingga tidak tahu aku sudah lulus?" kata Shang Liqi dengan nada menggoda.
Aku meminta maaf kepadanya lalu dia dengan kebingungan berkata, "Kamu minta maaf untuk apa? Kamu hanya perlu memberiku hadiah kelulusan kan, bagaimana dengan mentraktirku makan di restoran?"
"..."
Aku menghela nafas kemudian Shang Liqi berkata, "Baiklah kita bicara serius. Aku mendengar beberapa kabar dari dalam kampus. Setiap hari pukul 12 malam terdengar suara tangisan perempuan di asrama perempuan. Aku sedang berpikir apakah ini ada hubungannya dengan murid perempuan yang bunuh diri 1 tahun yang lalu."
"Apa? Ada murid perempuan yang bunuh diri 1 tahun yang lalu?"
"Iya, kamu tidak tahu?"
"Aku kan cuti, tentu saja aku tidak tahu."
Kemudian Shang Liqi berdeham dan berkata, "Iya juga, kamu baru kembali ke sekolah jadi mungkin tidak mendengar berita ini."
"Sebenarnya kamu menelponku untuk apa?"
Shang Liqi tidak mungkin menelponku hanya untuk basa-basi, dia mencariku pasti ada hal yang ingin dia bicarakan.
Walaupun awalnya dia selalu menggodaku terlebih dahulu.
"Bantu aku. Tinggallah beberapa hari di asrama perempuan lalu perhatikan apakah memang ada kejadian aneh saat malam hari. Jika ada kabari aku."
"Ini pekerjaan baru yang kamu terima?"
Shang Liqi kemudian menjawab, "Bukan, tapi ada orang yang meminta bantuanku hanya saja aku ragu-ragu untuk mengambilnya atau tidak. Aku bertanya kepada beberapa murid perempuan di asrama tapi tidak ada yang mendengar suara tangisan jadi aku ragu-ragu dan ingin kamu membantuku mencari kebenarannya terlebih dahulu."