Skip to content

Chapter 379 of 406

Chapter 379 - Bersentuhan Fisik

4 min read1,107 words

Awalnya aku mengira ada yang salah dengan pendengaranku, seorang Shang Liqi beanar-benar meminta bantuanku untuk mencari tahu kebenaran sebuah kasus?

Berdasarkan pemahamanku terhadap Shang Liqi, dia sangat menyukai uang dan pekerjaan apapun yang datang kepadanya, dia tidak akan menolak dan langsung membicarakan harga… tapi kali ini dia ingin mencari kebenaran kasus itu terlebih dahulu?

Aneh! Benar-benar aneh!

Apa sifat Shang Liqi berubah?

"Ehm… kamu ada apa?"

"Apa maksudmu?" tanya Shang Liqi.

Aku berdeham kemudian aku bertanya, "Siapa yang memberimu pekerjaan ini? Kenapa kamu tidak menerimanya terlebih dahulu baru mencari kebenarannya?"

"Seorang teman perempuan."

"Teman perempuan?"

"Lebih tepatnya teman adik perempuanku."

Kemudian aku hanya menjawab, "Oh." dengan nada datar. Tapi Shang Liqi malah berkata, "Oh, oh. Jangan berpikir yang aneh-aneh, dia hanya teman biasa. Aku memintamu untuk mencari tahu kebenarannya karena kebetulan 2 hari ini aku menerima pekerjaan lain sehingga aku tidak punya waktu senggang."

"Begitu?"

"Omong kosong, tentu saja. Lagi pula jika ada 2 pekerjaan di waktu yang bersamaan tentu saja aku akan melakukan pekerjaan dengan bayaran yang lebih mahal. Aku tidak bodoh. Kenapa aku harus mengerjakan pekerjaan dengan bayaran yang lebih murah jika aku bisa mendapatkan bayaran yang lebih mahal?"

Saat mendengarkan perkataan Shang Liqi aku ingin tertawa.

Ini baru Shang Liqi yang aku kenal!

"Aku akan mendiskusikan masalah menginap di asrama dengan Yang Qin terlebih dahulu."

"Apanya yang perlu didiskusikan? Hal sekecil ini kamu tidak bisa memutuskannya?" tanya Shang Liqi dengan tergesa-gesa.

"Tentu saja aku bisa membuat keputusan ini, tapi…"

"Jika kamu bisa memutuskannya maka maka lakukan saja. Aku pernah mendengar istri yang protektif tapi aku tidak aku tidak pernah mendengar suami yang protektif. Jangan bilang jika Yang Qin tidak mengijinkan, maka kamu tidak akan melakukannya?"

"..."

Memangnya dia anggap aku ini apa?

Aku merasa kesal dan saat akan mengatakan sesuatu Shang Liqi berkata, "Baiklah sudah diputuskan kamu akan menginap di asrama, besok aku tunggu kabar darimu."

"Shang…"

Sebelum aku menyelesaikan perkataanku Shang Liqi sudah menutup teleponnya.

Aku dengan kesal melempar handphoneku ke atas ranjang kemudian melihat ke arah luar jendela.

…

Hari sudah malam tapi Yang Qin masih tidak menelponku. Sebelum lampu kamar asrama mati aku menelponnya 1 kali… setelah cukup lama akhirnya dia mengangkatnya dan suaranya terdengar sangat lelah.

"Kenapa kamu belum pulang?"

"Malam ini aku tidur di asrama."

"Kenapa?"

"Shang Liqi memintaku untuk menyelidiki sesuatu."

"Berbahaya?"

"Tidak."

"Baiklah."

…

Kami berdua hanya saling bertanya dan menjawab pertanyaan satu sama lain, suasana saat kami menelpon menjadi terasa sangat suram...

Setelah tidak ada yang bicara untuk beberapa saat, akhirnya aku bertanya kepada Yang Qin, "Kamu sibuk apa hari ini? Kenapa tidak mengangkat teleponku?"

"Kamu tadi menelponku?"

"..."

Jawaban Yang Qin membuatku tidak tahu harus mengatakan apa.

Setelah diam beberapa saat Yang Qin kemudian menghela nafas dan dia berkata, "Hari ini Qinxue bertengkar dengan temannya hingga memukul mata temannya. Aku sedang mengurus masalah itu hingga sekarang dan Qinxue baru saja tidur."

"Qinxue bertengkar?" tanyaku tidak percaya.

"Iya."

"Bagaimana luka temannya? Apa parah?"

"Tidak. Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah mengurusnya."

"Terjadi masalah sebesar ini kenapa kamu tidak memberitahuku?" kataku dengan sedikit marah.

Aku tidak bisa menghubunginya ternyata karena sedang mengurus masalah ini. Yang Qinxue adalah putrinya tapi dia juga putriku. Bagaimana bisa dia tidak memberitahuku masalah ini?

"Aku hanya… tidak ingin mengganggu sekolahmu." jawab Yang Qin dengan hati-hati.

Awalnya aku merasa mulai marah tapi setelah mendengar perkataannya, amarahku perlahan mereda.

Yang Qin sepanjang hari sibuk mengurus masalah Yang Qinxue jadi dia tidak mungkin datang ke sekolahku. Itu berarti laki-laki yang aku lihat di gerbang sekolah bukan Yang Qin melainkan laki-laki yang mirip dengan Yang Qin?

Seketika perasaanku menjadi tenang.

Aku tahu Yang Qin tidak mungkin menemui perempuan lain di belakangku, dia juga tidak mungkin berbohong kepadaku.

Aku mengehela nafas lega dan nadaku menjadi jauh lebih lembut.

"Apa Qinxue terluka?"

"Tidak."

"Baguslah kalau begitu."

"Sudah malam, cepat tidur."

"Hm."

Saat aku akan menutup telepon aku mendengar suara Yang Qin, "Kamu tidak melupakan sesuatu?"

"Aku… melupakan apa?"

"Sebelum tidur setidaknya berikan aku ciuman selamat malam."

"..."

"Kita tidak bertemu sepanjang hari, kamu juga tidak akan memberiku ciuman selamat malam? Kamu ingin aku muncul sekarang di kamar asramamu untuk mendapatkan ciuman selamat malam?" aku dapat mendengar nada mengancam dari suara Yang Qin.

Tapi aku tidak bisa menahan senyumku, perasaanku terasa hangat dan jantungku berdegup semakin cepat.

Aku menarik nafas panjang kemudian mencium handphoneku cukup lama sebagai ciuman selamat malam.

Awalnya aku mengira itu sudah cukup tapi Yang Qin malah berkata dengan tidak senang, "Tidak cukup."

"Ha?"

"Bersentuhan fisik secara langsung lebih baik."

Sebelum aku mengatakan apa-apa tiba-tiba sebuah angin melewati tubuhku dan dalam sekejap Yang Qin muncul di kamar asrama.

Dia sedang memegang handphonenya dan berdiri tegap di depanku.

Saat melihatku dia tersenyum, senyumannya seolah memiliki maksud tersembunyi… kemudian dia kemudian memasukkan handphonenya ke dalam kantong celananya dan langsung mendekat ke arahku lalu mencium bibirku.

Aku melangkah mundur hingga terduduk di atas ranjang, aku sama sekali tidak mengira Yang Qin akan benar-benar datang.

Yang Qin menciumku secara tiba-tiba membuat pikiranku menjadi kosong. Kemudian Yang Qin mendorongku hingga berbaring di atas ranjang.

Yang Qin berada di atas tubuhku dan dia tersenyum hingga matanya membentuk bulan sabit.

"Masih tidak cukup." setelah itu Yang Qin kembali menciumku.

Kali ini Yang Qin menciumku dengan penuh kasih sayang, bahkan menggunakan ia lidahnya dan tidak membiarkanku untuk mengambil nafas.

Aku memegang tangan Yang Qin dengan erat dan aku dapat mencium aroma samar yang asing dari tubuhnya...

Untung saja di kamar asrama hanya ada aku seorang diri karena Liu Qiqi dan Hu Shan belum kembali.

Aku tidak tahu berapa lama kami berciuman, ciuman itu terasa sangat lama tapi juga terasa sangat sebentar. Aku hanya bisa mendengar suara detak jantungku dan tubuhku sama sekali tidak menolak ciuman Yang Qin.

Tiba-tiba dia menarik bibirnya kemudian tersenyum, senyumannya terlihat seolah dia sudah puas berhasil mendapatkan ciuman selamat malam yang dia inginkan. Lalu dia mengecup dahiku dan berkata, "Aku pergi dulu, mimpi indah."

Sebelum aku bisa mengucapkan 'Selamat malam', Yang Qin sudah menghilang.

Di saat yang sama pintu kamar asrama terbuka.

Liu Qiqi dan Hu Shan berjalan masuk. Hu Shan terlihat seolah akan menangis dan sesaat dia masuk ke kamar asrama, ia langsung menghela nafas.

"Aku lelah! Aku tidak kuat lagi!"

Perkataannya penuh dengan amarah, kemudian dia langsung berjalan ke arah ranjangnya lalu berbaring dan bergumam, "Aku benar-benar tidak paham dengan dosen ini, aku hanya menggunakan sebuah buku untuk referensi tapi dia bisa mengetahuinya dan ingin aku mengerjakan semuanya dari awal lagi."

"Tahu rasa, siapa suruh kamu menyalin begitu banyak hanya dari 1 buku. Tidak heran jika kamu ketahuan, dosen sekarang lebih cerdik dari keras." balas Liu Qiqi menanggapi perkataan Hu Shan.

Aku bangkit duduk kemudian Hu Shan berkata lagi, "Memangnya itu disebut menyalin? Aku hanya menggunakannya sebagai referensi."