Chapter 380 of 406
Chapter 380 - Suara Tangisan Di Tengah Malam
5 min read1,198 words
Liu Qiqi tertawa seolah mengejek Hu Shan kemudian dia pergi ke kamar mandi.
Hu Shan bangkit berdiri kemudian memegang kepalanya dan melihat ke arahku lalu berkata, "Ini sudah malam, kenapa kamu belum pulang?"
"Malam ini aku tidur di sini."
"Yang benar?" tanya Hu Shan dengan wajah tidak percaya.
Aku menganggukkan kepalaku. Tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi sedikit aneh, seketika dia tidak berani melihat mataku secara langsung dan kembali berbaring di ranjangnya.
Hu Shan adalah orang yang terbuka dan mudah dipancing untuk menceritakan sesuatu. Saat Liu Qiqi masih di dalam kamar mandi, aku berusaha mengorek informasi dari Hu Shan, "Aku dengar saat aku cuti ada murid perempuan yang bunuh diri?"
Saat mendengar itu Hu Shan terlihat terkejut lalu bertanya, "Kamu sudah mendengarnya?"
"Iya, siapa yang bunuh diri?"
"Penghuni kamar asrama di seberang kita, sepertinya dia adalah mahasiswa jurusanmu… namanya… namanya Yu Lu."
"Yu Lu?" tanyaku tidak percaya.
Yu Lu adalah teman sekelasku!
Semenjak kembali ke sekolah, aku sama sekali tidak menyadari ketidak hadirannya.
"Kenapa dia bunuh diri?"
"Sepertinya karena masalah percintaan lalu dia tidak bisa menyelesaikannya dan akhirnya bunuh diri."
"Bagaimana caranya bunuh diri?"
"Ha?" Hu Shan membelalakkan matanya seolah tidak mempercayai pertanyaanku.
Aku kemudian menjelaskan, "Maksudku apakah dia melompat dari gedung atau…"
"Bukan."
Aku menunggu jawaban Hu Shan dan tidak berkata apa-apa. Ia terdiam sesaat kemudian dia menjawab, "Dia bunuh diri di dalam kamar asrama, setelah seluruh lampu asrama mati dia menggunakan pisau untuk menusuk dirinya sendiri. Dia meninggal karena kehilangan banyak darah dan di tubuhnya benar-benar penuh dengan luka tusukan dan sayatan benar-benar menyeramkan."
Tubuh Hu Shan gemetar dan wajahnya menjadi pucat.
"Kamu bilang ada hubungannya dengan masalah percintaan?" tanyaku lagi.
Hu Shan membalik badannya kemudian menutup wajahnya dengan bantal lalu berkata, "Iya, dia dan pacarnya sudah pacaran 5 atau 6 tahun kemudian pacarnya berselingkuh dan dia tidak bisa menerima itu lalu bunuh diri."
"Laki-laki itu benar-benar keterlaluan, bagaimana dia bisa melakukan itu setelah bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Yu Lu?"
"Aku masih ingat nama pacar Yu Lu… Mo Xuan, iya namanya Mo Xuan."
"Keterlaluan, tapi Yu Lu juga bagaimana dia bisa melakukan itu?" kataku kesal.
Walaupun ingin bunuh diri apa tidak bisa melakukan dengan cara lain? Apa harus menusukkan pisau ke tubuhnya sendiri berkali-kali?
Di dalam kamar asrama ada 4 orang. Selama ia menggunakan pisau untuk menusuk tubuhnya bagaimana bisa 3 orang lainnya tidak menyadarinya? Walaupun dia menahan sakitnya, tapi pasti dia tetap akan mengeluarkan suara meskipun sangat kecil.
"Jadi sebaiknya kita tidak boleh terlalu mempercayai laki-laki, kamu juga Sixi." kata Hu Shan tiba-tiba mengubah topik pembicaraan menjadi ke arahku sambil menghela nafas panjang.
Aku tertegun kemudian dia dengan hati-hati bertanya, "Bagaimana hubunganmu dengan suamimu akhir-akhir ini?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Maksudku adalah hubungan suami istri."
"Baik-baik saja."
"Baik-baik saja?" tanya Hu Shan dengan wajah tidak percaya.
"Iya, baik-baik saja."
Kemudian Hu Shan hanya menjawab: "Oh." kemudian dia diam beberapa saat lalu berkata lagi, "Di zaman sekarang kemungkinan untuk berselingkuh sangat tinggi, aku sarankan kamu sebaiknya…"
Tiba-tiba terdengar suara berdeham yang cukup keras sehingga aku dan Hu Shan terperanjat seketika. Ternyata Liu Qiqi telah kembali dari kamar mandi.
Aku tahu dia melakukan itu dengan sengaja untuk menghentikan perkataan Hu Shan, seketika Hu Shan menutup mulutnya. Mereka tidak tahu bahwa ada orang yang sangat mirip dengan Yang Qin karena itu mereka mengira bahwa orang itu adalah Yang Qin dan mereka beranggapan bahwa Yang Qin selingkuh.
"Aku mempercayai Yang Qin, orang lain bisa saja berselingkuh tapi Yang Qin tidak akan melakukannya."
Aku mengatakan itu dengan penuh percaya diri.
Hu Shan lalu bertanya, "Bagaimana kamu bisa sangat yakin? Kamu bahkan tidak bersama dengannya 24 jam."
"Yang jelas aku tahu dia tidak akan melakukan itu."
Hu Shan membuka mulutnya lagi dan saat akan mengatakan sesuatu Liu Qiqi menarik tangan Hu Shan.
"Cepat ke kamar mandi untuk membersihkan dirimu, sebentar lagi seluruh lampu asrama akan mati."
Hu Shan kemudian bangkit berdiri dan dengan malas-malasan, "Iya, iya."
"Cepat."
"Iya."
Hu Shan berjalan keluar dengan perlahan.
Liu Qiqi kemudian merapikan rambutnya dan sambil menggunakan krim malam dia berkata kepadaku, "Kamu tidak perlu mendengarkan Hu Shan, dia sudah bicara sembarangan."
"Iya, aku tahu. Kamu tenang saja."
…
Setelah lampu seluruh asrama mati, gedung asrama menjadi sangat sunyi.
Sinar bulan yang masuk melalui celah jendela dan menerangi lantai serta membuatku dapat melihat isi kamar asrama dengan jelas.
Hu Shan adalah orang pertama yang tidur, dia juga sedikit mendengkur. Awalnya Liu Qiqi terlihat terus membalik-balik tubuhnya tapi setelah beberapa saat akhirnya dia menjadi tenang.
Setelah mereka berdua tertidur hanya aku yang masih terbangun.
Aku melihat ke arah jam di handphoneku beberapa kali dan terakhir kali melihat handphoneku sudah pukul 11 lebih 50 menit.
Masih ada 10 menit lagi sebelum pukul 12 malam, aku tidak tahu apakah akan benar-benar ada hal aneh yang terjadi.
Sepuluh menit terasa begitu sangat lama, waktu berlalu dengan sangat lambat.
Akhirnya, malam yang tenang berakhir karena terdengar suara tangisan.
Tangisan itu terdengar penuh dengan amarah dan terdengar seolah berasal dari dimensi lain, mendengar itu membuat seluruh bulu kudukku berdiri.
Aku mengambil handphoneku dan melihat jam, tepat pukul 12 malam!
Sepertinya memang benar apa yang dikatakan oleh teman adik perempuan Shang Liqi, ada sesuatu di dalam gedung asrama ini.
Aku mendengar suara tangisan itu sepanjang malam dan tidak tahu kapan aku tertidur, tapi rasanya aku seperti baru saja tidur kemudian Liu Qiqi membangunkanku.
Dia mengingatkanku bahwa aku ada kelas pagi, kemudian cepat-cepat aku membersihkan diri dan keluar dari kamar asrama.
Hu Shan masih berbaring di atas ranjangnya. Dia terbangun sebentar untuk mengucapkan sampai jumpa kepadaku lalu kembali berbaring dan tidur.
Setelah itu aku pergi ke kantin untuk sarapan dan tiba di kelas tepat waktu.
Sepanjang malam aku tidak tidur dengan nyenyak sehingga saat kelas aku mengantuk. Aku berusaha sekuat tenga untuk tidak tertidur tapi aku juga sama sekali tidak bisa memahami pelajaran yang sedang dijelaskan.
Setelah selesai kelas, aku makan siang kemudian langsung kembali ke kamar asrama untuk tidur. Setelah tidur kurang lebih selama 2 jam akhirnya aku terbangun karena telepon dari Shang Liqi.
Aku mengangkat telepon dan langsung mendengar Shang Liqi bertanya dengan panik, "Bagaimana keadaan di sana?"
"Aku mendengar suara tangisan sepanjang malam, benar-benar menyebalkan."
"Kalau begitu aku akan mengambil pekerjaan ini, tapi aku masih belum menyelesaikan urusanku jadi kamu urus dulu ya."
Aku dengan terkejut bertanya: "Aku?"
"Aku dan Meng Tian sibuk jadi kamu yang mengurusnya, memangnya ada cara lain?"
"..."
Sudah lama aku tidak membantu Shang Liqi dan sepertinya aku hampir lupa bahwa aku harus membantunya.
"Kamu tidak bicara apapun maka aku anggap kamu setuju, sore ini jam 4 datang ke perusahaan ya."
"Aku…"
Tanpa menungguku mengatakan apa-apa Shang Liqi sudah menutup teleponnya.
Aku menghela nafas panjang dan merasa sedikit kesal tapi saat teringat masalah ini ada hubungannya dengan Yu Lu, akhirnya aku memilih untuk melakukannya.
Awalnya aku ingin tidur lagi tapi sudah tidak bisa karena menerima panggilan dari Shang Liqi. Akhirnya aku turun dari ranjang lalu mencuci wajahku dan naik taksi lalu pergi ke perusahaan Shang Liqi.
Aku datang 10 menit lebih awal dari waktu janjian kami dan saat masuk ke dalam aku melihat Shang Liqi dan Meng Tian sedang duduk di sofa sambil makan mie dengan lahap.
Aku melihat mereka berdua seperti orang yang sangat kelaparan, aku tidak mau mengganggu mereka jadi aku masuk dan langsung duduk di sofa.