Skip to content

Chapter 385 of 406

Chapter 385 - Teman Yang Menggemaskan

5 min read1,172 words

Setelah terdengar nada sambung beberapa kali, akhirnya Zhou Yi menerima teleponku. Aku tidak tahu dia sedang berada dimana tapi aku dapat mendengar suara piano dengan sangat jelas.

"Aku Ji Sixi."

"Sekarang aku sibuk." kata Zhou Yi dengan nada suara angkuh.

Aku bahkan dapat membayangkan ekspresi wajahnya saat mengatakan itu.

"Kamu tidak di di sekolah?"

"Aku sedang makan di luar dengan pacarku."

"Kapan kamu kembali ke sekolah?"

"Memangnya aku harus melapor kepadamu kapan aku kembali ke sekolah?" jawab Zhou Yi dengan tidak sabaran.

Aku menggertakan gigiku untuk menahan diri lalu berkata, "Dalam keadaan seperti ini, kamu harus memberitahuku keberadaanmu."

Langit sudah gelap dan jika dia adalah target Yu Lu maka aku tidak akan bisa melindunginya karena dia tidak bersamaku. Aku tidak akan bisa menanggung akibatnya jika terjadi sesuatu dengannya.

Zhou Yi terdiam sesaat lalu berkata, "Aku akan menghubungimu jika akan kembali ke sekolah."

"Kalau begitu cepat…"

Sebelum aku menyelesaikan perkataanku, Zhou Yi sudah menutup teleponku.

Aku harus mengakui bahwa aku sangat tidak menyukai Zhou Yi. Tapi karena sudah terlanjur menerima pekerjaan ini, aku tidak memiliki pilihan lain selain segera menyelesaikannya.

Aku meletakkan handphoneku di atas meja kemudian berbaring di atas ranjang. Saat itu pikiranku cukup kacau...

Suara tangisan di tengah malam... aku yakin 100% itu adalah suara Yu Lu, tapi apa yang harus aku lakukan kepada perempuan malang itu?

Sebagai seorang perempuan, aku dapat bersimpati dengan perasaannya. Ada banyak murid perempuan yang tinggal di asrama perempuan ini tapi yang mendengar suara tangisan itu hanya Zhou Yi, jadi sudah jelas target Yu Lu adalah Zhou Yi.

Aku tidak tahu apakah mungkin Zhou Yi yang menjadi penyebab hubungan Yu Lu berpisah dengan Mo Xuan, tapi menurutku Mo Xuan bukan laki-laki baik yang patut diperebutkan.

Yu Lu meninggal dengan cara yang mengenaskan, walaupun mereka sudah berpisah tapi dia sama sekali tidak terlihat prihatin ataupun sedih. Dia malah tertawa bahagia bersama Zhou Yi, dia bahkan muncul di vila dan berpura-pura menjadi Yang Qin...

Saat memikirkan itu tiba-tiba tubuhku merinding.

Saat itu pintu kamar asrama terbuka.

Liu Qiqi dan Hu Shan masuk dengan basah kuyup.

Setelah masuk kamar, Liu Qiqi meletakkan 2 buku yang sebelumnya dia peluk lalu mengambil tisu untuk mengelapnya setelah itu baru dia mengambil handuk untuk mengeringkan rambutnya.

"Sekarang laporan cuaca semakin lama semakin tidak akurat. Sepanjang hari langitnya sangat cerah lalu bagaimana tiba-tiba bisa hujan? Akhirnya kami kehujanan saat pulang dari perpustakaan." gerutu Hu Shan sambil melepaskan bajunya yang basah.

"Kalian kan bisa menelponku, aku bisa mengantarkan payung untuk kalian."

"Siapa yang tahu kamu ada di kamar asrama? Kami kira hari ini kamu pulang ke vila."

Setelah melepaskan bajunya, Hu Shan dengan cepat mengenakan pakaian bersih kemudian dia menggunakan handuk untuk mengeringkan rambutnya.

Kemudian aku teringat dengan Zhou Yi dan Yu Lu sehingga tidak bisa menahan diri bertanya, "Kalian tahu Zhou Yi tinggal di kamar asrama nomor berapa?"

Saat mendengar perkataanku mereka berdua melihatku dengan mata terbelalak.

Setelah beberapa saat aku baru ingat bahwa mereka salah paham. Mereka mengira Yang Qin berselingkuh dengan Zhou Yi.

Hu Shan dan Liu Qiqi saling bertukar pandang kemudian mereka dengan cepat mengambil tempat air yang biasanya digunakan untuk mencuci muka.

"Aku mau cuci muka dulu."

Setelah Hu Shan pergi, Liu Qiqi ingin keluar juga tapi aku menghentikannya.

"Kamu jangan pergi juga, aku mau tahu Zhou Yi tinggal di kamar asrama nomor berapa?"

Dia melihat ke arahku lalu tersenyum canggung dan berkata: "Aku tidak tahu." setelah selesai menjawab pertanyaanku, dia cepat-cepat keluar dari kamar asrama.

Sepertinya aku harus mencari waktu untuk menjelaskan hal ini kepada mereka agar mereka tidak terus salah paham kepada Yang Qin.

Sejak awal aku tahu bahwa Yang Qin tidak akan mengkhianatiku, terlebih aku tahu bahwa di dunia ini ada orang yang sangat mirip dengan Yang Qin… Jika saja aku tidak mengetahui fakta itu, bisa jadi aku juga bisa salah paham kepada Yang Qin.

Pada pukul 9 malam lebih hujan berhenti.

Aku membuka jendela dan membiarkan angin malam masuk. Aku dapat mencium aroma tanah dan rumput yang basah. Aroma yang membuatku merasa segar...

Aku masih belum menerima telepon dari Zhou Yi sehingga aku tidak tahu apakah dia akan kembali ke sekolah atau tidak.

Saat pukul setengah 10 malam aku kembali menelponnya dan dia mengangkatnya.

"Kebetulan sekali kamu menelponku, aku baru saja sampai di asrama."

"Kamu tinggal di kamar nomor berapa?"

"502."

"Apa ada ranjang kosong di kamar asramamu?" tanyaku.

Zhou Yi berpikir sejenak kemudian dia bertanya, "Untuk apa menanyakan itu? Kamu berencana tidur di kamar asramaku?"

"Iya."

"Tidak perlu."

"30 menit lagi lampu asrama akan dimatikan, jangan membuang waktu. Katakan padaku ada ranjang kosong atau tidak. Jika tidak kamu tidur di kamar asramaku saja, di sini ada 1 ranjang kosong."

Zhou Yi tidak menjawab pertanyaanku kemudian dia berkata dengan dingin, "Aku sudah bilang, tidak perlu." setelah mengatakannya dia langsung menutup teleponku.

Aku sudah hampir kehilangan kesabaranku, jika dia tidak ingin bekerja sama bagaimana aku bisa melanjutkan pekerjaanku?

Jika aku tidak memikirkan keselamatannya, aku juga tidak akan peduli dengannya.

Aku memeriksa isi tasku kemudian membawanya ke kamar asrama nomor 502.

Sebelum aku membuka pintu kamar asrama, Hu Shan melihat ke arahku dan bertanya, "Sebentar lagi lampu asrama akan dimatikan, kamu mau pergi kemana?"

"Ada urusan, kalian tidak perlu mencemaskanku. Istirahatlah."

Tanpa menunggu mereka menjawab, aku membuka pintu kemudian keluar. Saat akan menutup pintu, aku mendengar suara Hu Shan berkata:,"Qiqi, Sixi bukan akan mencari Zhou Yi untuk bertengkar kan?"

"Zhou Yi?"

"Haduh, kamu tidak dengar tadi dia bertanya berapa nomor kamar asrama saat sedang menelpon?"

"Maksudmu dia tadi menelpon Zhou Yi?"

"Haduh, kamu lupa apa tadi Ji Sixi juga bertanya kepada kita Zhou Yi tinggal di kamar asrama nomor berapa." kata Hu Shan dengan panik.

Liu Qiqi dengan panik berkata, "Lalu bagaimana? Aku dengar Zhou Yi bukan orang yang sabar dan baik, tidak akan terjadi sesuatu pada Sixi kan?"

"Aku tidak tahu! Tidak bisa, aku tidak bisa membiarkan terjadi sesuatu kepada Sixi. Kita harus membantunya."

…

Kemudian aku mendengar suara berdecit, sepertinya Hu Shan turun dari ranjangnya.

Aku tidak langsung pergi dan dalam beberapa detik Hu Shan telah membuka pintu.

Dia menggunakan jaket lalu memegang sapu. Saat melihatku dia langsung terperanjat. Liu Qiqi yang ada di belakang Hu Shan. Meskipun dia tidak membawa apapun tapi dia sedang melipat lengan bajunya.

Aku tidak pernah merasa mereka berdua begitu menggemaskan hingga membuatku tidak bisa menahan tawa.

Saat melihatku, mereka berdua sangat terkejut.

Hu Shan membelalakkan matanya lalu bergumam, "Kamu masih di sini?"

"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian."

Hu Shan tersenyum canggung lalu menyentuh belakang kepalanya dan berkata, "Kami khawatir terjadi sesuatu kepadamu."

"Terjadi sesuatu?" aku berpura-pura tidak tahu.

Hu Shan berdeham tapi dia tidak mengatakan apa-apa kemudian Liu Qiqi berkata, "Hu Shan mengatakan kamu mencari Zhou Yi untuk bertengkar dengannya."

"Kenapa aku harus mencarinya untuk bertengkar?"

"Ehm… lalu kamu mencari Zhou Yi untuk apa?" tanya Liu Qiqi berusaha mengubah topik pembicaraan.

"Dia adalah pelangganku, aku sedang membantunya menyelesaikan suatu masalah."

"Pelanggan?" tanya mereka berdua di saat yang bersamaan dan melihatku dengan tatapan tidak percaya.

Aku menganggukkan kepalaku lalu berkata, "Baiklah, kalian tidak perlu berpikir yang aneh-aneh. Aku dan Zhou Yi tidak mungkin bertengkar, kalian istirahatlah. Tidak perlu mengkhawatirkan aku."