Chapter 397 of 406
Chapter 397
5 min read1,154 words
"Hal aneh apa lagi yang kamu sadari?" tanya Shang Liqi dengan wajah serius.
Yu Lu melihat ke arah Shang Liqi dan dengan tidak senang berkata, "Masih belum cukup? Semua yang dia lakukan itu sudah termasuk perubahan yang besar dalam dirinya."
"Baiklah."
Shang Liqi kemudian mengambil botol yang berisi darah anjing hitam dan menutupnya lalu memasukkannya ke dalam tasnya, setelah itu dia bangkit berdiri dan berkata, "Malam ini kita kurung dia di sini. Panggil hantu penghakiman untuk membawanya pergi."
Saat mendengar itu Yu Lu seketika membelalakkan matanya dan berkata, "Kalian tidak bisa melakukan itu kepadaku."
"Kamu sudah membunuh banyak orang, lalu kamu ingin kami melakukan apa?"
"Orang-orang itu memang pantas mati."
Shang Liqi mengangkat tangannya seolah mengatakan tidak ingin mendengar apapun kemudian Yu Lu juga tidak mengatakan apa-apa lagi.
Walaupun Yu Lu dapat merasakan bahwa Mo Xuan berubah menjadi orang lain, tapi dia tidak tahu siapa yang bersembunyi di tubuh Mo Xuan.
Setelah menangkap Yu Lu, memang sudah seharusnya memanggil hantu penghakiman untuk membawanya pergi agar dia tidak lagi membuat masalah di dunia manusia.
"Karena di kamar ini sudah aku tempel jimat, dia tidak akan bisa kabur." kata Shang Liqi sambil mengangkat tangannya dan melihat jam lalu dia menguap dan berkata, "Aku mau pulang, lalu tidur. Akhir-akhir ini aku kurang tidur."
Shang Liqi bangkit berdiri lalu dia juga menarikku untuk berdiri.
Shang Liqi berjalan di depan, aku berjalan di belakangnya kemudian aku melepaskan jimat yang ada di pintu agar Yang Qin bisa keluar setelah itu aku kembali menempelkan jimat itu sebelum keluar.
Setelah mengantar Shang Liqi keluar dan melihatnya naik ke mobil dan pergi, aku berbalik badan dan memeluk Yang Qin. Kemudian aku mengangkat kepalaku melihat ke arah Yang Qin dan dia terlihat terkejut atas sikapku.
"Aku senang kamu begitu antusias dan aktif memelukku."
Aku melihat ke arahnya lalu memandangi matanya dan tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Apa… kamu akan menindasku di atas ranjang?"
"Mungkin."
"Apa?" seketika bulu kudukku berdiri.
Yang Qin tertawa lalu dia menepuk kepalaku lalu dengan lembut berkata, "Tergantung dengan sikapmu, jika kamu bersikap baik dan aku merasa senang maka…"
Tanpa menunggu Yang Qin selesai bicara, aku berjinjit dan menciumnya.
Yang Qin sepertinya sama sekali tidak mengira aku akan menciumnya hingga dia melangkah mundur.
Dia berbalik badan dan aku bisa mendengar suara angin di telingaku, dalam sekejap kami sudah tiba di kamar tidur.
Kemudian Yang Qin membaringkanku di atas ranjang.
Lalu dia naik ke atas tubuhku dengan lembut…
Suasana terasa sangat romantis dan kami menikmati waktu kami berdua.
Malam itu kami seperti melupakan Yu Lu yang ada di kamar tamu dan keesokan harinya saat aku membuka pintu kamar tamu, Yu Lu tidak ada.
Dia menghilang tanpa jejak tapi hantu penghakiman belum datang kemari karena Yang Qin belum memanggil mereka.
Aku memeriksa jimat yang ada di kamar itu dan jimat yang ada di pintu tidak ada, itu berarti Yu Lu pasti kabur.
Dia tidak mungkin melepas jimat itu sendiri, lalu kenapa jimat itu bisa menghilang?
Yang Qin selalu bersamaku sepanjang malah terlebih lagi dia adalah hantu jadi tidak mungkin dia melepaskan jimat di pintu itu. Lebih tidak mungkin lagi jika dia melepaskan Yu Lu.
Maka hanya tersisa 1 orang di vila ini...
Yang Qin sepertinya tahu apa yang aku pikirkan, dia melihat ke arahku dan menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Tidak mungkin."
Tanpa mengatakan apapun, aku langsung naik ke lantai 2 dan pergi ke kamar Yang Qinxue.
Saat itu masih pagi, aku membuka pintu kamarnya dan gorden jendela kamarnya masih tertutup rapat sehingga kamarnya masih gelap.
Yang Qnxue sedang memeluk bonekanya dan tertidur lelap di atas ranjangnya.
Dia terlihat begitu nyenyak hingga aku sedikit tidak tega membangunkannya. Setelah membulatkan tekad, akhirnya aku menggoyang-goyangkan tubuh Yang Qinxue dengan pelan.
"Qinxue, Qinxue." panggilku dengan lembut dan dia membuka matanya.
"Mama."
Dia mengusap matanya dan terlihat kebingungan saat melihatku.
Saat itu Yang Qin masuk kemudian dia mengangkat Yang Qinxue dari atas ranjangnya sambil tersenyum.
"Qinxue, kemarin malam kamu pergi ke kamar tamu lantai 1?"
"Iya." jawab Yang Qinxue dengan jujur.
"Untuk apa kamu ke sana?"
"Aku mendengar suara lalu aku turun, di kamar tamu ada seorang kakak perempuan yang meminta bantuan kepadaku jadi aku membantunya."
"..."
Sekarang semuanya sudah jelas!
Ternyata Yang Qinxue yang melepaskan Yu Lu, tapi dia masih terlalu kecil untuk mengerti apa-apa jadi aku tidak bisa menyalahkannya.
Yang Qin melihatku dan mengangkat alisnya.
Yang Qinxue kembali mengusap matanya lalu berkata, "Papa, aku masih mengantuk. Aku ingin tidur lagi."
"Baiklah, tidurlah!"
Yang Qin kembali membaringkan Yang Qinxue di atas ranjangnya kemudian menyelimutinya sambil menepuk-nepuk tubuhnya dengan lembut, tidak lama kemudian Yang Qinxue kembali tertidur.
Kemudian aku dan Yang Qin keluar dari kamar Yang Qinxue dan memberitahu Shang Liqi tentang masalah ini.
Shang Liqi yang masih tertidur dan mengangkat teleponku dengan mengantuk seketika langsung tersadar sepenuhnya setelah mendengar berita ini lalu berteriak padaku, "Cepat pergi ke sekolah cari Zhou Yi! Cepat!"
Setelah menutup telepon aku bahkan tidak sempat mencuci muka atau ganti baju. Aku berlari langsung turun ke lantai 1.
Yang Qin mengikutiku kemudian dia menarikku kemudian menggendongku..
Aku memeluk leher Yang Qin dengan erat dan dalam sekejap kami telah tiba di gedung asrama perempuan.
Yang membuatku terkejut adalah kami tiba di kamar asrama Zhou Yi.
Yang Qin tidak pernah bertemu ikut campur masalah ini tapi dia tahu bahwa Zhou Yi tinggal di kamar asrama nomor 502.
Ternyata memang ada banyak hal yang tidak bisa disembunyikan dari Yang Qin, seolah dia mengetahui segala hal.
Setelah menurunkanku, Yang Qin bersandar di dinding lalu melihat ke arahku dan berkata, "Aku tunggu di sini saja, aku tidak nyaman masuk ke kamar asrama perempuan."
Aku menganggukkan kepalaku dan mengetuk pintu kamar asrama.
Tidak lama kemudian ada seorang perempuan yang membuka pintu. Dia sedang mengusap matanya lalu bertanya, "Kamu mencari siapa?"
"Zhou Yi ada?"
"Ada."
Dia berbalik badan lalu kembali ke ranjangnya dan berbaring.
Jendela kamar asrama itu terbuka dan angin berhembus masuk, saat masuk ke kamar itu aku mencium aroma darah.
Aku melihat ke arah Zhou Yi dan tubuhnya ditutupi oleh selimut hanya kepalanya yang terlihat dan wajahnya terlihat sangat pucat.
Aku dapat melihat di bawah ranjangnya ada tetesan darah dan seketika aku merasa panik.
Aku mengulurkan tanganku dan membuka selimut Zhou Yi dan aku melihat seluruh tubuhnya penuh dengan darah.
Seketika aku merasa jantungku seolah berhenti berdetak kemudian terdengar suara teriakan perempuan dari dalam kamar asrama.
Yang berteriak itu adalah teman asrama Zhou Yi yang tidur di seberang ranjang Zhou Yi. Dia terlihat ketakutan saat melihat Zhou Yi dan langsung meringkukkan tubuhnya ke ranjangnya.
Teriakannya membuat asrama yang tenang tiba-tiba menjadi gempar hingga membuat teman kamar asramanya yang lain juga terkejut dan seketika langsung bangkit duduk.
"Ada apa? Apa yang terjadi?"
Perempuan yang tidur di seberang Zhou Yi menunjuk ke arah Zhou Yi dan dengan gemetar berkata, "Zhou Yi, dia… dia meninggal."
…
Kematian Zhou Yi diputuskan sebagai kasus bunuh diri. Kematiannya sekitar pukul 2 sampai 3 pagi dan penyebab kematiannya karena kehilangan banyak darah. Caranya meninggal sama persis dengan 3 perempuan lain yang dibunuh oleh Yu Lu.