Chapter 404 of 406
Chapter 404
4 min read1,082 words
Semakin memikirkannya perasaanku semakin terasa hancur.
Suasana di dalam mobil sangat suram dan pengap sehingga aku membuka kaca jendela sehingga angin dapat bertiup masuk.
Yang Qin menyetir dengan cepat hingga tidak lama kemudian kami tiba di rumah sakit.
Kami menanyakan keadaan Zhang Xiaojie dari seorang perawat lalu kami pergi ke kamar rawat inapnya.
Operasinya berhasil. Meskipun belum sadarkan diri tapi dia sudah melewati masa kritis sehingga masih dalam pengawasan dokter.
Saat kami baru tiba di pintu kamar rawat inap, kami melihat seorang dokter yang berjalan keluar lalu di belakangnya ada orang tua Zhang Xiaojie.
Dokter itu berkata, "Malam ini adalah waktu penentu, jika dia bisa melewatinya maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Terima kasih banyak dokter." kata tuan Zhang sambil menjabat tangan dokter itu dengan erat.
Kemudian nyonya Zhang menangis. Dia menghapus air matanya dan tubuhnya terlihat seolah lemas sehingga langsung terduduk di kursi yang ada di kamar rawat inap Zhang Xiaojie.
Setelah mengetahui bahwa operasi Zhang Xiaojie berhasil aku mengehela nafas lega karena Yang Qinxue tidak sampai membunuh orang. Jika sampai Zhang Xiaojie meninggal mungkin aku akan pingsan karena tidak bisa menerima semua itu.
Setelah mengantar dokter itu pergi, tuan Zhang melihatku dan Yang Qin lalu berkata, "Anak kami sudah melewati masa kritis untuk saat ini. Semoga malam ini dia juga bisa melewatinya dengan selamat ."
"Dia akan baik-baik saja." kata Yang Qin dengan yakin.
Tiba-tiba aku teringat bahwa Yang Qin pernah menjadi raja dunia roh jadi dia seharusnya tahu tentang umur Zhang Xiaojie di dunia ini.
Dia terlihat begitu tenang. Aku rasa malam ini tidak akan terjadi apapun kepada Zhang Xiaojie.
Saat memikirkan itu aku merasa sangat lega.
Shang Xiaojie terluka karena Yang Qinxue jadi aku dan Yang Qin sepakat untuk ikut berjaga di rumah sakit malam ini.
Orang tua Zhang Xiaojie tidak terlihat ingin pulang, tapi karena nenek Zhang Xiaojie sudah cukup tua sehingga tuan Zhang menyuruhnya untuk pulang terlebih dahulu.
Saat nenek Zhang Xiaojie ingin pulang, dia terlihat sangat tidak tenang sehingga dia mengingatkan tuan dan nyonya Zhang untuk menjaga Zhang Xiaojie dengan baik setelah itu dia baru berjalan pulang.
Kami menitipkan Yang Qinxue kepada Shang Liqi dan ini membuatku teringat dengan mimpi itu.
Mimpi dimana Shang Liqi menikah dengan Yang Qinxue. Aku dan Yang Qin duduk di sana menyaksikan pernikahan mereka berdua…
Aku benar-benar tidak ingin mengingat mimpi itu, tapi entah kenapa aku malah teringat kembali.
Mimpi itu terasa sangat nyata seolah akan benar-benar terjadi.
Atau bisa juga karena Yang Qinxue menyukai Shang Liqi. Rasa suka yang melebihi antara seorang keponakan kepada pamannya tapi rasa suka antara perempuan kepada laki-laki...
Tapi Yang Qinxue masih sangat kecil, dia sama sekali tidak mungkin bisa bersama dengan Shang Liqi.
Tiba-tiba aku merasa gelisah, semakin memikirkan itu aku semakin merasa itu adalah hal yang tidak boleh terjadi.
Aku tidak tahu kenapa aku menjadi sangat sensitif tapi aku memiliki firasat buruk.
Selain keluarga tidak ada yang boleh masuk ke kamar rawat inap sehingga aku dan Yang Qin duduk di kursi yang ada di depan kamar rawat inap Zhang Xiaojie. Waktu berlalu tapi aku dan Yang Qin tidak saling berbicara satu dengan yang lainnya.
Langit sudah gelap dan lampu koridor menyala dengan sangat menyilaukan hingga membuatku sedikit pusing.
Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Yang Qin tapi aku merasa pertahanan mentalku akan segera runtuh dan aku ingin seorang diri sekarang.
Aku tidak bisa menahan diri lagi dan berkata kepadanya, "Kamu pulang dulu saja untuk menjaga Yang Qinxue."
Yang Qin melihat ke arahku lalu dengan tenang berkata, "Ada Shang Liqi."
"Suruh Shang Liqi untuk pulang. Kamu pulang dan jaga Yang Qinxue."
Yang Qin mengangkat alisnya dan terlihat kebingungan.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin kamu pulang untuk menjaganya. Aku… hari ini memukulnya jadi aku takut sekarang masih belum stabil." aku tidak tahu apakah alasan ini bisa membuat Yang Qin untuk mau pulang.
Perasaanku merasa sedikit gelisah.
Yang Qin melihat ke arahku untuk beberapa saat, lalu aku memalingkan pandanganku darinya.
Aku takut Yang Qin akan mengetahui maksudku yang sebenarnya.
Yang Qin kemudian bangkit berdiri.
"Kalau begitu aku pulang dulu. Kamu tidak apa-apa seorang diri di sini?" tanya Yang Qin sambil menundukkan kepalanya melihat ke arahku dengan wajah tidak tenang.
Aku menganggukkan kepalaku dan berkata, "Hm, kamu pulang saja."
"Jika ada apa-apa telepon aku."
"Hm."
Setelah mengatakan itu Yang Qin berjalan pergi melewati koridor…
Setelah berjalan beberapa saat, bayangannya menghilang…
Di koridor tersisa aku seorang diri…
Malam itu tidak ada yang terjadi pada Zhang Xiaowei tapi di rumah sakit, terutama malam hari, aura negatifnya cukup kuat dan banyak hantu yang berkeliaran.
Saat ada Yang Qin, tidak ada hantu yang mendekatiku tapi tidak lama setelah Yang Qin pergi ada banyak hantu yang lewat di depanku.
Sebagian besar hantu itu meninggal di rumah sakit ini, ada yang meninggal karena kecelakaan ada yang masih muda ada yang sudah tua. Yang jelas dengan keberadaan para hantu itu, aku menjadi cukup gelisah sepanjang malam…
Tanpa aku sadar langit mulai terang dan hantu yang ada di sekitarku perlahan menghilang, aku menghela nafas panjang dan akhirnya merasa lega.
Aku bersandar dan tanpa tersadar tertidur.
Aku belum tidur terlalu lama kemudian aku dibangunkan oleh nenek Zhang Xiaojie.
Dia memberiku makanan dan baju bersih, sepertinya dia melihatku tidur di kursi karena itu membangunkanku karena takut tubuhku akan sakit.
Dia begitu hangat, walaupun dia tidak tersenyum tapi dia juga tidak terlihat marah.
"Anak muda, aku membuat sarapan. Kamu ikutlah makan."
"Tidak usah repot-repot." aku segera duduk dengan tegak lalu melambaikan tanganku.
Zhang Xiaojie seperti ini karena Yang Qinxue, mana mungkin aku bisa makan bersama keluarganya.
"Xiaojie sudah melewati masa kritis, kamu tidak perlu menunggu di sini lagi. Kamu bisa pulang."
"Apa Xiaojie sudah sadar?"
"Masih belum."
"Kalau begitu aku akan menunggunya sadar baru…"
"Kamu pulang saja, aku merasa kasihan melihat kamu tidur semalaman di sini. Nanti setelah keadaan Xiaojie lebih baik kamu bisa datang lagi, sekarang kamu pulang saja." kata nenek Zhang Xiaojie.
Setelah mengatakan itu dia tidak berkata apa-apa lagi dan langsung masuk ke dalam kamar rawat inap.
Aku bangkit berdiri dan melihat keadaan ruang kamar rawat inap dari jendela di pintu kamar itu. Nenek Zhang Xiaojie sedang mengeluarkan sarapan dan meletakkannya di atas meja sedangkan orang tua Zhang Xiaojie sedang melihat anak mereka yang terbaring di atas ranjang.
Zhang Xiaojie masih belum pulih, lehernya masih dibalut dengan perban dan wajahnya terlihat pucat.
Sebelumnya aku tidak pernah memperhatikan anak tetangga tapi hari ini aku baru menyadari bahwa umur Zhang Xiaojie tidak berbeda jauh dari Yang Qinxue dan mereka masuk taman kanak-kanak yang sama. Itu berarti mereka saling mengenal, lalu kenapa mereka bisa bertengkar?